Touring to The Heaven of Beach, Bulukumba

Sebelumnya,  terimakasih banyak buat Mail yang sudah nyediain tempat nginep, jadi guide selama di Jeneponto sampai Bulukumba. Terimakasih juga buat ibunya Mail yang sudah masakin hidangan berbahan daging kuda khas Jeneponto yang lezatnya bukan main dan bikin stamina jadi lebih grengggg. Kalau ga salah nama masakannya "Gantala". Rasanya mirip-mirip sate tapi gak pake ditusuk-tusuk, kadang ada sensasi mirip rendang juga. Campur-campur rasanya tapi uenak bukan main. Selain itu dimasakin konro kuda juga yang gurih gurih sedap geli geli mantap.
Pengen lagi deh...

Pantai Bara, Bulukumba
tempat camping kami menikmati malam minggu

Setelah kenyang melahap sarapan, dengan semangat kami melaju ke Bulukumba start dari rumah Mail di Jenponto. Perjalanan ditempuh selama 2 jam perjalanan dengan sepeda motor. Sebelum sampai di Kabupaten Bulukumba, kami lebih dulu melewati satu kabupaten lain yaitu Bantaeng. Seperti yang sudah ditulis di postingan sebelumnya kalau kami juga sempat mampir di salah satu air terjun terkenal di Bantaeng yaitu air terjun Bisappu.

Perjalanan di setiap kabupaten yang kami lewati mulai dari Kota Makassar punya pemandangan yang begitu variatif. Kabupaten Gowa dengan pemandangan yang masih terpengaruh dengan perkotaan yang macet karena memang bersebelahan dengan Makassar yang mana gak ada berhentinya orang wara-wiri lewat situ. Kabupaten Takalar dengan pemandangan perkotaan yang mulai sepi dan jalanan pun mulai melipir ke pinggir laut. Masuk di Jeneponto dengan pemandangan yang makin lebih sepi dengan bentang alam yang terkesan sangat gersang namun geliat pertanian tetap terlihat disana. Selain itu bakal kita temukan petani garam yang kalau beruntung kita dapati mereka sedang memanen garam yang bisa jadi menjadi pemandangan yang sangat langka (bagi yang gak pernah melihat proses pembuatan garam sih). Lalu Bantaeng dengan tata kota dan kebersihan yang sempat mencuri perhatian saya saat melewati kabupaten itu. Meski capek tapi pemandangan itu bisa menjadi “cafein” yang bisa membuat terjaga selama perjalanan. 


Tiba di Bulukumba

Dan akhirnya sekitar pukul 12 siang kami sudah masuk di Bulukumba. Kami sempatkan dulu sholat dhuhur sekaligus istirahat sejenak sebelum lanjut ke spot wisata. Dari pusat kota masih sekitar satu jam perjalanan untuk sampai di spot-spot wisata Bulukumba. Wajib nih sholat di masjid hits Se-Bulukumba ini. Biar kayak orang-orang gitu, kalau ke Bulukumba pada foto-foto disini. Tapi jangan lupa masjid yang lain dibikin hits juga yak... hehe...

touringer Majene (Sulbar) - Bulukumba (Sulsel) via Makassar
±560 km

Lanjut mendekati spot wisata, perut kami sempat keroncongan dan makin tak tertahankan. Tak seberapa jauh dari batas kabupaten, kami melewati deretan warung makan dengan menu utama Seafood. Tak perlu bingung-bingung kami langsung masuki saja salah satunya tanpa pilih-pilih. Kebetulan kesemua warungnya menghadap ke laut. Jadi kali itu makan siang kami sambil memandang lautan luas nan membiru. 
Istimewaaa...

makan siang hari pertama di Bulukumba

Belum usai makan, rintik hujan mulai turun padahal sinar matahari masih terang menyengat. Kami pun sempat heran dan make a wish semoga ntar gak kehujanan. Tapi sepertinya hujan lebih sayang pada kami yang sudah kepanasan sejak tadi pagi. Sebelum sampai di spot pertama pun hujan turun dengan lebatnya. Oiya, destinasi pertama yang kami datangi adalah Tebing Aparalang atau Aparalang Cliff  yang terkenal dengan tebing-tebingnya yang unik berpadu dengan air berwarna biru menyala yang jernih. Bagi yang pernah ke Pantai Dato, sepertinya bakal menemukan beberapa kesamaan antara Tebing Apparalang dengan objek wisata andalan Majene itu karena sekilas pemandangan dan juga warna airnya hampir mirip.


Tebing Apparalang




Pantai Apparalang sendiri terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Untuk menuju kesini belum ada transportasi umum, jadi mudahnya kalau pengan ke sana adalah pakai kendaran pribadi atau rental. Kira-kira kalau dari Kota Makassar kita harus menempuh perjalan dengan jarak tempuh sekitar 4,5 jam menuju ke arah Tanjung Bira, baru ada petunjuk ke arah kiri. Lokasinya dari jalan poros Bulukumba ada jauh di sebelum pelabuhan Bulukumba.


Camp di Pantai Bara

Malam Minggu itu kami berencana mendirikan camp di area Pantai Bara. Tenda dan segala macam perlengkapan berkemah udah terpacking, kurang logistik saja yang bakal kami lengkapi di pusat kota. Sebelumnya kami belum tahu pasti apakah diijinkan atau nggak camping disana. Di pintu masuk pembelian karcis kami sempat ditakut-takuti sama bapak-bapak iseng yang katanya gak boleh nenda di Pantai Bara, kalau ketahuan bakal di denda Rp 500.000,-. Tapi kami tetap saja menuju kesana, setidaknya kalau memang nggak boleh ya oke lah yang penting kesana dulu pokonya.

Hmmm, benar aja emang kami cuman ditakut-takuti. Ternyata saat sampai di pantai dengan pasir putih yang teksturnya seperti tepung terigu itu, udah ada beberapa tenda yang berdiri. Setelah tanya-tanya sama rombongan anak yang camping disana, ternyata boleh nenda dengan membayar uang retribusi Rp 35.000,- untuk dana kebersihan dan perawatan kawasan pantai. Tapi inget ya kawan-kawan, jangan sampai beranggapan kalau sudah beli tiket atau bayar konstribusi lalu kalian bisa seenaknya buang sampah, berbuat vandalisme, merusak segala macam yang ada di area wisata, atau pun apalah itu yang bersifat merusak. Jadilah traveler yang bertanggung jawab, jangan cuma jadi wisatawan yang visi misinya hanya berakhir dengan sekedar pamer foto di sosial media.

Oiya, hal yang paling saya kagumi begitu sampai di Pantai Bara adalah tekstur pasirnya yang sangat sangat lembut. Hampir menyerupai tepung, malah lebih lembut lagi. Baru kali itu dari sekian pantai yang pernah saya datangi yang punya pasir putih selembut yang ada di Pantai Bara.

Karena saat kami tiba disana sudah mulai gelap dan rasa capek pun gak tertahankan setelah seharian motoran. Pengen segera mendirkan camp dan tidur sampe pagi besok ketemu sunrise yang kece.

Tenda pun berdiri dengan sempurna, barang-barang segera kami masukkan, mengisi perut secukupnya, dan akhirnya bisa tidur. Tapi setelah mencoba memejamkan mata, namun rasanya malam itu terasa sia-sia kalau berlalu begitu saja. Lagian bintang di luar sana begitu gemerlapan yang terlalu sweet kalau ditinggal tidur. Kami menggelar matras di luar tenda dan melihat rombongan lain sedang pentas seni di malam keakraban mereka. Kami sok akrab aja deh ikut-ikutan nonton acara mereka. Itung-itung hiburan di malam syahdu di tepi Pantai Bara Bulukumba.

iseng-iseng menikmati malam

jalan-jalan menyusuri pantai yang puanjang banget dari Bara sampai Bira

kalau agak surut gini bisa disusuri dari ujung sampai ujung

lihat segimana kinclong pasirnya kan

Temen-temen mungkin lebih akrab dengan Pantai Tanjung Bira yah kalau misalnya ditanya pantai yang paling terkenal di Bulukumba. Saya pun awalnya gitu. Tapi Ternyata antara Bara dan Bira itu pantai yang beda. Tapi tapi tapi, ternyata juga Pantai Tanjung Bira dan Pantai Bara itu adalah pantai yang saling tersambung dan dihubungkan oleh satu pantai dengan nama berbeda lagi yaitu Pantai Marlboro. Yap 3 pantai yang disebutkan tadi memang menyatu dan dapat ditelusuri dari ujung hingga ujung kalau kalian ngga capek loh. Soalnya panjaaaaaaang banget. Bentuknya melengkung membentuk menyerupai teluk dan sepanjang teluk itu pasirnya putih bersih dan lembut. Emang sih yang paling rame Pantai Tanjung Bira karena emang itu pantai yang paling awal dipromosikan sehingga Pantai Bira lah yang paling tenar. Tapi kalau kalian nyari ketenangan ya mending ke Pantai Bara, bisa camping ceria dan santai kayak di pantai. Ups, emang di pantai kali.

Sebenarnya bisa menuju spot menarik lagi di seberang sana dengan menaiki kapal motor yang banyak disewakan yaitu Pulau Kambing dan Liukang Loe untuk bersnorkling ria dan melihat penangkaran penyu. Karena waktu yang terbatas dan perjalanan pulang yang masih sangat jauh, kami pun men-skip nyebrang ke pulau itu yang sebenarnya sangat sayang sekali dilewatkan. Dan kami pun bersiap pulang. Huft, perjalanan jauh euy. Tapi gapapa yang penting udah bawa pengalaman dan foto oleh-oleh dari Bulukumba. It's time to say  Sampai Jumpa lagi Bulukumba...!!! entah kapan lagi kita berjumpa.

Di perjalanan pulang kami sempat mampir-mampir dulu ke beberapa spot menarik lainnya di Bulukumba. Itung-itung sekalian dihabisin meskipun ga bakal semua bisa didatengin satu-satu. Kami pilih-pilih saja yang searah dengan jalan pulang.

Menengok Pusat Pengrajin Perahu Phinisi

Menghilangkan rasa penasaran tentang gimana cara kapal Phinisi dibuat, kami pun mampir sejenak menengok tempat atau bisa juga disebut pusatnya pengrajin Phinisi di Bulukumba yang tempatnya kebetulan searah dengan jalan pulang kami. Berada di poros Kota Bulukumba - Tanjung Bira, tepatnya di Tanah Beru, Kec. Bontobahari kita bisa dengan mudah menemukan para lelaki yang sedang bergotong royong membuat kapal yang sebegitu megah dan tangguh hingga kabarnya sempat berlayar hingga Vancouver di Kanada sana pada tahun 1986.

Phinisi setengah jadi


Ketangguhannya tersebut tak lepas dari prosesnya yang panjang dan rumit. Tak heran kalau Bulukumba berjuluk "Butta Panrita Lopi " atau tanah para pengrajin kapal. Ritual-ritual khusus pun digelar mulai dari pemotongan kayu dari hutan sampai kapal diarungkan ke laut untuk yang pertama kalinya. Pembuatan Perahu Pinisi cukup unik, karena proses pembuatannya memadukan keterampilan  teknis dengan kekuatan magis. Tahap pertama dimulai dengan penentuan hari baik  untuk mencari kayu.  Hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke-5 dan ke-7 pada bulan  yang sedang berjalan. Angka 5 menyimbolkan naparilimai dalle‘na, yang berarti rezeki sudah di tangan, sedangkan angka 7 menyimbolkan natujuangngi dalle‘na, yang berarti selalu mendapat rezeki. Tahap selanjutnya adalah menebang, mengeringkan dan memotong kayu. Kemudian kayu atau bahan baku tersebut dirakit menjadi sebuah perahu dengan  memasang lunas, papan, mendempulnya, dan memasang tiang layar. Tahap terakhir  adalah peluncuran perahu ke laut.

gotong royong


biginilah kesibukan para lelaki di negeri Panrita Lopi

Sebelum perahu  Pinisi diluncurkan ke laut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara maccera lopi atau mensucikan perahu yang ditandai dengan penyembelihan binatang. Jika perahu Pinisi itu  berbobot kurang dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah seekor kambing, dan jika bobotnya lebih dari 100 ton, maka binatang yang disembelih adalah  seekor sapi. Pada saat peletakan lunas, juga harus disertai prosesi khusus. Saat dilakukan pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki. Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Kemudian, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Itu sebabnya untuk melakukan pemotongan harus dikerjakan oleh orang yang bertenaga kuat. Demikian selanjutnya setiap tahapan selalu melalui ritual tertentu. Keren yah???


Tau lagu Nenek Moyangku Seorang Pelaut kan??? Nah, mungkin selain negara kita ini yang merupakan negara bahari, pembuatan lagu tersebut juga terinspirasi oleh Suku Bugis yang gemar mengarungi lautan dan merantau dengan kapal Phinisinya. Perahu  Pinisi termasuk alat transportasi laut tradisional masyarakat Bugis yang sudah  terkenal sejak berabad-abad yang lalu. Menurut cerita di dalam naskah Lontarak  I Babad La Galigo, Perahu Pinisi sudah ada sekitar abad ke-14 M. Menurut  naskah tersebut, Perahu Pinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigading, Putra  Mahkota Kerajaan Luwu. Bahan untuk membuat perahu tersebut diambil dari pohon welengreng atau pohon dewata yang terkenal sangat kokoh dan tidak mudah rapuh. Sang putra mahkota membuat perahu tersebut  untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang  bernama We Cudai. Singkatnya begitu sejarah dari keberadaan phinisi yang sempat pula menjadi gambar pada mata uang Rp 100,-. Kalau teman-teman sempat pakai uang kertas berwarna merah itu untuk jajan pas SD, kemungkinan kita seumuran hahaha.

Komentar

  1. Lengkappp tujuan di sekitar Bulukumba. Dulu tahunya di sana ada pantai cantik dan pusat pembuatan kapal phinisi aja, ternyata ada Tebing Apparalang yang keren banget buat dijepret kamera. Nice share, bro :-)

    BalasHapus
  2. Wih pantai asik banget, buat foto2 instagram-able :)

    BalasHapus
  3. Wih pantai asik banget, buat foto2 instagram-able :)

    BalasHapus
  4. 560 km trus kamu naik motor ???? hebat ... Kalo gw mungkin dah encok semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong om kan judulnya touring, pegel juga sih tapi seru....

      Hapus
  5. Hai hai....makasih info nya seputar tj bira. Mau tanya dong, bayar biaya retribusi 35rb utk camping di pantai bara nya ke siapa ya? Bkn ke bapak2 yg nakut2in itu kan? Sepanjang ngecamp di sana aman nyamn saja kah? Sy jg berniat utk camping di bara soalnya. Makasih sebelumnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah bapak2 yg nakutin yg mana mas?

      Oh iya, pengalaman sy kmaren setelah bangun tenda di sebelah tenda2 yg udah duluan berdiri disana, terus ada yg nyamperin ngasih tiket retribusi.

      Jadi waktu itu saya bangun tenda dulu baru bayar, kalo ngeliat ada yg bawa karcis retribusi camping brrti bayarnya sama dia.

      Hapus

Posting Komentar

Jangan enggan beri kritik dan saran yaaa...!!!