Menunggu Pesawat di Air Terjun Parang Loe
6/30/2014



Menunggu kata orang adalah hal yang paling membosankan, tapi bagi saya membosankan atau tidaknya tergantung bagaimana cara mengisinya. Setiap orang pasti punya cara masing-masing untuk menghibur dirinya sendiri di tengah saat-saat yang membosankan itu. Biasanya  gadget-lah yang bisa menjadi penghiburnya. Chatting, browsing, update status, nge-game, atau apa pun itu bisa dilakukan dengan gadget yang kian lama makin canggih saja.  Namun, bingung juga kalau jadwal penerbangan jam 5 sore sedangkan jam 5 pagi sudah sampai Makassar setelah perjalanan malam dari Majene itu mau dikemanakan 12 nya. Nunggu di bandara selama itu? Sudah nggak membosankan mungkin ya, tapi jadi mati gaya kekeringan “plonga-plongo” gak jelas. Jadilah rencana ngetrip singkat saya susun jauh-jauh hari setelah tahu kalau masih punya waktu luang 12 jam di Makassar sembari menunggu keberangkatan pesawat ke Jawa.

Sebelum itu sepertinya perlu juga kontak-kontakan sama teman yang ada di Makassar, siapa tahu bisa dapet tumpangan gratis atau tempat selonjoran sementara. Kali itu saya menghubungi Agung yang dulu juga sempat ngetrip 3 hari di Makassar bareng. Kebetulan juga waktu itu dia lagi ada motor, jadilah saya tak perlu susah-susah naik pete-pete beberapa kali untuk sampai di kantornya di Sungguminasa, Kab. Gowa. Sebab dia bersedia menjemput di sekitar Terminal Daya Kota Makassar. Okelah sip, trip kali itu makin lancar saja dengan adanya motor tersebut.

Singgah sejenak di KP2KP Sungguminasa, kami berpikir hendak kemana hari itu. Sekiranya tempatnya keren tapi nggak jauh-jauh amat dari lokasi kami saat itu. Hmm, tik tok tik tok… Pura-pura mikir padahal tempat yang dituju sudah saya pikirkan sejak lama dan bahkan menjadi dream destination. Air Terjun Parang Loe lah yang menjadi tempat pilihan yang pas untuk menunggu waktu keberangkatan pesawat saya. Lumayan dekat juga dengan Sungguminasa, berada di satu kabupaten yang sama malah. Menurut info yang saya dapat, lokasi air terjun berada di daerah yang namanya sama dengan nama air terjunnya yaitu Parang Loe, Kabupaten Gowa.

Menuju Air Terjun Parang Loe – Gowa

Saya sendiri buta daerah Makassar dan sekitarnya, apalagi daerah Kab. Gowa. Secara kami hendak menuju air terjun tersebut dengan motor, berarti mau tidak mau kami harus sedikit banyak tahu arah kemana-kemananya motor hendak dipacu. Kata Agung sih dia sedikt tahu arahnya. Hmmm, sedikit? Okelah, tak mengapa dari pada nggak sama sekali.

Air Terjun Parang Loe berada di kompleks Perhutani Kab. Gowa yang bisa dicapai dengan menyusuri jalan Poros Sungguminasa-Malino. Tau dong Malino? Malino merupakan kawasan wisata tersohor pula di Sulawesi Selatan. Berupa hutan wisata dengan beberapa spot menarik, termasuk ada beberapa air terjun disana. Tapi tujuan kami saat itu cukup ke Air Terjun Parang Loe saja, mengingat keterbatasan waktu yang saya miliki.
3 komentar

Mencari Jodoh di Air Terjun Kalijodo - Pinrang
6/26/2014




Lebih dari sebulan sudah hidup menyatu bersama etnik Suku Mandar di Kota Majene, kalau dihitung-hitung mungkin lebih dari 5 pantai yang sudah saya kunjungi. Begitu banyak pantai disini, secara memang Majene merupakan kota pesisir. Satu hari pengen juga eksplore-eksplore keindahan alam lain yang ada, semisal pemandian air panas, air terjun, atau apa lah selain yang sudah mainstream yaitu pantai. Tapi bukan berarti sudah bosan dengan pantai loh ya. Sama seperti mendaki gunung yang meski sudah belasan kali mendakinya, saya tidak mungkin bisa bosan. Pantai pun demikian tak akan membosankan.

Satu pagi di akhir pekan, Pak Sute yang tak lain Kepala Seksi saya mampir ke kantor setelah hunting-hunting foto gembala kerbau di lapangan rawa pinggiran Majene. Beliau memang tengah tergila-gila dengan fotografi. Sejak perkenalan beberapa waktu silam beliau pun juga sempat cerita tentang hobinya itu pada kami. Pagi itu, setelah ngobrol-ngobrol sambil menunjukkan hasil jepretannya, saya pun juga cerita kalau sebenarnya saya juga punya hobi yang sama. Entah memang beliau lagi nyari teman hunting atau emang pengen ngajak kami yang nggak bisa jalan-jalan karena ga ada kendaraan, tiba-tiba nawarin untuk jalan-jalan ke air terjun. Bagai kejatuhan durian saja kalau saya diajakin jalan-jalan hehe. Saya oke-kan saja ajakan beliau. Tak lupa ngajak temen-temen yang lain sekalian, biar rame.

Rencananya kami mau ke Air Terjun Kalijodo di Kota Pinrang, Sulsel. Wew, sudah beda profinsi aja. Majene yang berada di Sulawesi Barat dan menuju Pinrang yang ada di Sulawesi Selatan. Emang jauh sih, tapi kalau beliau saja bela-belain mau kesitu berarti memang air terjunnya memang WOW.

5 komentar

Sandeq, Perahu Khas Mandar yang Tangguh
5/20/2014




Sandeq merupakan perahu tradisional Mandar yang juga menjadi perahu khas Majene dan sebagian besar wilayah Sulbar yang lain seperti Mamuju dan Polewali. Tak heran jika banyak monumen-monumen di tengah kota yang menggunakan bentuk miniatur sandeq. Kalau sekilas melihat perahu ini memang terlihat tidak asing, karena bentuknya mirip perahu bercadik dengan dua bambu di samping kiri dan kanan yang berfungsi sebagai penyeimbang. Tapi tentu sandeq bukan perahu bercadik biasa. Bentuk sandeq sesuai namanya sendiri yang berasal dari Bahasa Mandar yang berarti runcing. Bagian depan (haluan) dan bagian belakang (buritan) perahu ini berbentuk runcing dengan badan yang ramping. Sehingga memungkinkan bisa membelah ombak dengan mudah dan meluncur di lautan dengan cepat. Jangan meremehkan bentuknya yang mungil dan terlihat rapuh karena dibalik fisik perahu tersebut yang imut tersimpan ketangguhan yang luar biasa.

replika sandeq disamping Kantor Bupati Majene

Kemampuan sandeq mengarungi lautan tentunya tak perlu dihiraukan lagi. Secara perahu ini sudah tercipta sejak masa silam dan telah banyak mengajarkan para pelaut Mandar untuk menjadi pelaut ulung. Pelaut yang bisa memprediksi kapan waktu yang tepat untuk melaut dan kapan waktunya untuk hanya memarkirkan sandeqnya di pantai. Waktu yang tepat bisa mendatangkan hasil tangkapan ikan yang lumayan melimpah. Sedangkan jika cuaca buruk, demi keselamatan biasanya para nelayan membiarkan sandeq-nya beristirahat dulu.

Dulunya perahu berlayar segitiga ini digunakan untuk pengangkut dagangan menuju pasar. Disinilah pengaturan waktu perlu direncanakan matang-matang, jika terlambat sedikit saja dagangan terancam tak laku karena pembeli biasanya akan memilih dagangan yang segar tentunya yang datang lebih pagi.

Di masa sekarang perahu yang dicat putih ini selain masih dipergunakan sebagai alat mobilitas perdagangan dan transport nelayan, sandeq mulai menjamah ranah wisata. Terbukti dengan banyak sandeq-sandeq yang sengaja dibuat untuk disewakan pada wisatawan yang ingin menjajal betapa cepatnya sandeq meluncur di lautan.

sandeq yang disewakan di sekitaran Taman Kota Majene

kalau ini bisa disewa kalau lagi main ke Pantai Dato


0 komentar

Pantai Dato, Pantai Unggulan Kota Majene
5/20/2014



Pantai Dato merupakan salah satu pantai yang menjadi wisata unggulan di Majene. Keunikan pantai ini adalah perpaduan antara pantai karang dan juga pantai pasir putih. Tebing karang yang seolah menyembunyikan pantai ini dari keramaian tak hanya sebagai benteng pemecah ombak saja, namun juga melengkapi keindahan pantai ini. Keunikan lain Pantai Dato adalah airnya yang berwarna biru cerah yang jika dilihat dari atas tebing akan tampak lebih biru sempurna dan jika dilihat dari dekat akan terlihat kebiruan dengan dasar laut yang terlihat karena saking beningnya.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi pantai ini bisa dipagi hari saat matahari beranjak naik maupun saat sore hari dengan bonus sunset yang sangat indah. Namun jika mau mendapat view air laut yang paling biru, datang di antara pukul 10 – 1 siang.Waktu tersebut adalah yang paling pas untuk mendapat pemandangan bentangan laut yang super luas dengan warna biru menyala, tapi tentunya dengan panas terik matahari yang harus ditahan.

Menuju Pantai Dato

Pantai Dato terletak di Kecamatan Banggae Timur, cukup dekat dengan pusat Kota Majene. Dari jalan utama yaitu Jalan Jendral Sudirman, cobalah cari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Majene. Tepat di depannya ada satu jalan masuk mengarah ke tepi laut. Tinggal susuri saja jalan tersebut hingga sekitar 3 km dan setelah menemukan masjid Nurussalam yang berada di kanan jalan belok saja di jalan disamping masjid itu sekitar 2 km. Jalan menuju Pantai Dato cukup lebar dan muat untuk dilewati kendaraan roda empat. Alternatif lain untuk sampai di pantai ini jika tidak membawa kendaraan pribadi adalah dengan ojek yang pangakalannya juga berada di depan KPP Pratama Majene.

Sebelum sampai di pantainya kita bakal disambut oleh dataran luas seperti lapangan yang bisa digunakan untuk camping ceria dan juga sebagai parkir kendaraan. Pemandangan dari tanah lapang ini cukup indah dengan view laut yang tampak luas. Menengok ke bawah bisa langsung memandang pasir putih Pantai Dato yang menggoda setiap orang untuk segera mencicipi butiran lembut pasirnya.

Sebetulnya pantai ini pernah mendapat pengelolaan yang lumayan bagus, terbukti dengan adanya satu bangunan yang mungkin dulunya pernah berfungsi sebagai warung atau apalah itu saya juga kurang tahu karena wujudnya sekarang sudah tidak berbentuk lagi. Selain itu juga ada bangunan anak tangga menuju satu tebing karang tinggi yang dari atasnya bisa melihat pemadangan yang luar biasa. Anak tangga inilah yang juga menjadi ciri khas Pantai Dato.


Keadaan pantainya terkadang bersih namun tak jarang pula mendapat kiriman sampah dari pesisir seberang. Dengan keadaan yang seperti ini, perlu adanya kesadaran bagi para pengunjung untuk tidak lebih mengotori keindahan pantai ini makin parah lagi, kalau bisa malah saat melihat sampah disana coba dipungut dan dibuang di tempat sampah yang ada. Dengan langkah kecil seperti itu semoga suguhan wisata yang tak dipungut biaya sepeserpun itu makin menjadikan Majene sebagai kota wisata yang makin TOP lagi.

12 komentar

I'Majene, Tentang Majene dan Jejak Kaki Pertamaku
5/20/2014

  
Hidup saya seperti termanufer 180° saat menginjakkan kaki di kota ini. Dulunya saya anak gunung yang  hidup damai di bawah naungan Gunung Merbabu yang sejuk sekaligus sebagai pendaki gunung sejati, sekarang harus memulai kehidupan baru yang terasa kontras. Kontras bukan dalam hal yang bagaimana sih, tapi kontras dalam hal suasana namun setara dalam hal keindahan. Gunung dan Laut sama-sama menyajikan keindahan yang tak akan membuat bosan bagi penikmatnya.

Kota Majene, kota pesisir dengan garis pantai lebih dari seratus kilometer kini menjadi tempat hidup saya. Kota kecil di Sulawesi Barat dengan sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidupnya pada laut. Mereka begitu dekat dengan laut, begitu pula saya sekarang. Saya juga sangat dekat dengan laut karena saya kini menjadi bagian dari mereka.

KPP Pratama Majene
Sampainya saya di kota kabupaten dengan mayoritas Suku Mandar ini simpel saja, karena satu hal yaitu penempatan. Penempatan dari salah satu instansi di bawah Kementrian Keuangan lah yang menjadikan saya sekarang berada di tengah-tengah mereka. Di awal postingan saya tentang catper pendakianGunung Arjuno sudah saya ceitakan disitu bagaimana awalnya saya mendapatkan kabar perihal penempatan yang sangat mengangetkan itu. Memang aneh, kenapa Majene bisa ada hubungannya dengan pendakian Gunung Arjuno di Jawa Timur sana. Namun, dalam hidup saya dua hal itu sangat berhubungan dan menjadi salah satu momen yang tak akan pernah terlupakan. Sebab, pengumuman penempatan ke KPP Pratama Majene saya terima saat beberapa menit saja sebelum keberangkatan saya menuju basecamp Gunung Arjuno yang perencanaannya sudah jauh-jauh hari sebelumnya. Tentunya tak akan saya batalkan rencana pendakian itu, apalagi sudah janjian dengan beberapa teman. Kebetulan pula beberapa teman tersebut juga mendapat penempatan yang sama-sama jauh. Yah, jadilah kami mendaki dengan membawa nama kota penempatan kami masing-masing. Dan kami bertekad untuk meneriakkan kota penempatan kami di Puncak Gunung Arjuno. Hidup Majene…!!!

Kota Majene

Kab. Majene bersama 4 kabupaten lain yaitu Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Mamuju Utara menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Barat dengan Mamuju sebagai Ibu Kotanya. Luas Majene sendiri sekitar 950 km2 dengan terbagi lagi menjadi 8 kecamatan yaitu Banggae Timur, Banggae, Pamboang, Sendana, Tamero’do, Tubo, Malunda, dan Ulumanda. Pusat Pemerintahannya berada di Kec. Banggae.

Majene berbatasan langsung dengan laut di sebalah selatan dan barat, berbatasan dengan Kota Mamuju di sebelah utara dengan jarak tempuh sekitar 142 km, serta berbatasan langsung dengan Kab. Polewali Mandar dengan jarak sekitar 55 km dengan pusat kotanya. Karena berbatasan laut ini lah yang menyebabkan masyarakatnya sangat dekat dengan laut dan menjadikan saya yang dulunya anak gunung sekarang menjadi anak pantai. Haha…

wajah kesederhanaan gadis kecil dari Bukit Tande Majene

Mengenai masyarakatnya, sebagian besar penduduk Majene merupakan etnis Mandar yang masih kuat menjunjung budayanya. Selain itu juga ada etnis pendatang seperti Bugis, Makassar, Toraja, dan Jawa. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Bahasa Mandar yang jujur bagi saya sangat sulit dipahami. Bahkan yang awalnya saya kira bahasanya masih berkerabat dengan Bahasa Makassar tapi ternyata orang Makassar pun disini kadang kurang mengerti Bahasa Mandar. Jadi disamping menjadi pendatang di Majene yang selain mengeksplor keindahan alamnya, saya juga bertekad mempelajari budayanya termasuk belajar bahasa mandar yang terdengar susah itu.


4 komentar

Makassar Hari Ketiga part. 2 (Dusun Berua)
4/26/2014




Setelah keluar dari kawasan Taman Batu Rammang-rammang, kami pun bergegas menuju dermaga penyebrangan ke Dusun Berua. Jalan kaki lagi tentunya, namun sekarang panasnya jadi tak karuan. Terik matahari mungkin sedang maksimalnya terpancar ke bumi. Dari taman batu, kami berjalan kembali keluar desa menuju jalan ke arah pabrik semen kamudian mencari keberadaan jembatan pertama yang dibawahnya mengalir Sungai Pute. Menurut info yang saya dapatkan sih begitu, tapi jauh dekatnya masih belum sepenuhnya kami ketahui. Pokoknya yakin saja kalau kami bisa, yeahhh. 
Dan benar saja, karena keyakinan kami tersebut tak berjalan terlalu jauh akhirnya kami temukan jembatan pertama. Dibawahnya sudah ada perahu kertas yang siap melaju membawa kami. Pakai tawar-tawar dulu dong pastinya, berharap kejadian hari sebelumnya ke Pulau Samalona dengan Si Enal tak terulang lagi disini. Tapi sepertinya bapaknya baik kok, nggak seekstrim persaingan antar calo di dermaga penyebrangan ke Samalona.


Tawar-tawar akhirnya kami deal di Rp 150.000,- untuk satu ketinting. Saya sebenarnya tak yakin dengan perahu sekecil itu bisa mengankut kami bertiga ditambah bapaknya, tapi kata beliau ternyata pernah juga mengangkut penumpang hingga 6 orang belum termasuk bapaknya. Kami naik satu persatu ke ketinting tersebut dengan sedikit goyangan-goyangannya yang membuat jantung berdegub kencang. Setelah ambil posisi masing-masing di atasnya, mesin pun mulai dinyalakan dan petualangan menyusuri Sungai Pute menuju Dusun Berua pun dimulai. Pemandangannya sungguh luar biasa, mendekati pemandangan green canyon di Jawa Barat. Mirip mirip juga sama sungai sebelum Air Terjun Sri Gethuk di Gunung Kidul. Eh tunggu, masih ada satu lagi yang mirip, gunung-gunung karangnya mirip yang ada di Pulau Sempu.







   
Selama hampir 15 menit kami terombang-ambing di atas ketinting kecil akhirnya kami sampai di Desa Berua. Waow, saya ada dimana ini sungguh menakjubkan. Lagi-lagi saya terhipnotis akan keunikan pemandangan yang tersaji. Benar saja saingannya China dan Vietnam, ini sih memang sudah kelas internasional. Deretan pegunungan kapur terhampar di depan mata dengan beberapa kolam yang menciptakan refleksi karst yang memukau.
6 komentar

Makassar Hari Ke-3 part 1 (Taman Batu Karst Rammang-rammang)
4/26/2014



Perjalanan di Makassar tidak selesai sampai ke Fort Rotterdam & Pantai Losari pada hari pertama serta Pulau Samalona di hari keduanya saja, kuota libur masih satu hari lagi. Apalagi hari ketiga ini adalah hari Minggu, hari liburnya kebanyakan orang. Jadi makin semangat saja mengakhiri jalan-jalan di kota coto ini dengan pergi ke destinasi yang paling saya impikan untuk didatangi sejak lama. 
Hari Minggu, 20 April 2013 lalu saya dan dua teman akhirnya berhasil sampai di dua spot menarik di kawasan deretan pegunungan karst Maros, Sulawesi Selatan. Sungguh tak terbayang bisa sampai di tempat seindah dan seeksotis itu. Luar biasa pokoknya. Tempat itu sukses membuat saya teramat kagum dan serasa berpindah zaman. 
Karst Rammang-rammang berhasil membawa kami seperti masuk ke zaman batu dan juga Dusun Berua yang menghipnotis kami sehingga kami seolah sedang berada di China atau Vietnam dengan deretan pegunungan karst-nya yang mempesona.


Desa Berua

Mugkin bagi sebagian orang masih belum terlalu mengenal dua destinasi tersebut, tapi bagi pengagum keindahan alam dan penyuka jalan-jalan tentu sudah menambahkan tempat tersebut ke dalam waiting list-nya atau bahkan sudah mencoretnya karena sudah terealisasi. Hal tersebut pun akhirnya juga bisa saya lakukan. Mencoret Karst Rammang-rammang dari daftar tunggu tempat wisata yang ingin didatengin karena saya sudah berhasil sampai di tempat yang saya impikan tersebut.

Berawal dari bergabungnya saya di grup fb yang semua anggotanya penyuka jalan-jalan, membawa saya mengenal Rammang-rammang. Sebuah barisan pegunungan kapur dengan bentuk yang sangat unik dan dihiasi hijaunya pepohonan yang melekat di permukaannya. Entah kenapa saat melihat foto yang di-post salah satu member, saya merasa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Mumpung lagi online juga, seketika saya langsung mencari info-info mengenai pegunungan kapur yang katanya terbesar kedua di dunia itu. Konon yang menjadi saingannya yaitu China dan Vietnam yang sama-sama punya karst yang cantik. Namun, bagi saya Indonesia tetap yang nomor satu pastinya.


perfecto paradiso

Dari hasil browsingan, saya jadi tau kalau lokasi keberadaanya ada di Pulau Sulawesi sana. Saat itu posisi lagi ada di Jateng. Pernah sih saya hidup setahun di Pulau Sulawesi, tapi yang di ujung utaranya (Manado). Sedang karst yang saya pengen datengin ada di bagian selatan tepatnya di Kota Maros, tetangganya Makassar. Jadilah keyakinan saya menciut. Yakin kalau butuh waktu untuk merealisasikannya. Tapi Alhamdulillah, penempatan kerja yang awalnya saya tanggepin dengan bermuram durja ternyata membawa hikmah. Hikmah karena tak jauh dari calon tempat kerja tersebut ternyata menyimpan keindahan, terlebih keindahan yang sudah diimpikan.

Pada hari H keberangkatan saya ke Majene, tentunya singgah dulu di Makassar sebelum menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 6 jam. Baru tahu juga setelah mendarat di Bandara Internasional Hasanuddin, ternyata lokasi bendara bukan tepat di Kota Makassar namun ada di Kota Maros. Wah, berarti dekat dong dengan pegunungan karst itu bahkan mungkin terlihat pula dari bandara. Tapi karena saat landing di kota yang dulunya bernama Ujung Pandang itu sudah terlampau malam jadinya nggak bisa melihat sekitaran.

Hal tak terduga kembali terjadi. Sore hari saat perjalanan ke Majene dimulai, setelah melewati pusat Kota Maros saya melirik ke luar jendela. Dan apa yang saya lihat. Yap, deretan pegunungan karst membentang dari selatan keutara. Itulah karst yang selama ini saya ingin lihat. Cahaya senja makin menjadikan keeksotisan karst tersebut makin terpancar. Tapi apa boleh buat, saat itu tujuan saya adalah ke Majene jadi saya harus puas dengan memandangnya dari jendela mobil. Tak perlu kuatir, mulai saat itu jarak saya dan karst tersebut sudah makin dekat. Jadi cukup atur jadwal saja untuk bisa menyambanginya.

Tak sabar ingin segera menjumpai destinasi yang masih jarang dieksplor namun malah ternyata sudah tereksploitasi oleh perusahaan semen tersebut, akhirnya baru seminggu saja di Majene saya sudah berencana ke Makassar lagi. Di pertangah April ada satu long weekend tersedia. Jadilah 3 hari libur tersebut saya pakai untuk menjelajah Makassar, dengan tujuan wajibnya adalah Karst Rammang-rammang di Maros.

Haripertama di Makassar baru diisi dengan jalan-jalan di pusat kota dengan riuhnya aktifitas dan berkunjung ke landmark kota tersebut yaitu Fort Rotterdam & Pantai Losari. Sedang hari kedua saya mencicipi lembutnya pasir dan jernihnya air laut Pulau Samalona di seberang kota. Dan hari ketiga barulah saya berhasil sampai ke kawasan Karst Rammang-rammang dan Dusun Berua.

Taman Batu Rammang-rammang,
fell like in The Stone Age

Menuju Karst Rammang-rammang

Akses menuju lokasi cukup mudah, dimulai dari Terminal Daya Kota Makassar  naik pete-pete jurusan Pangkep. Selama hampir setengah jam kita akan melewati pinggiran Kota Makassar hingga akhirnya sampai di Kota Maros. Ancer-ancer nanti turun adalah jalan masuk ke Pabrik Semen Bosowa. Bilang aja sama pak supirnya pas uda sampai pusat Kota Maros kalau mau turun di jalan masuk pabrik semen.

Setelah turun dari pete-pete, perjalanan masih berlanjut. Bisa dilanjutkan dengan naik pete-pete lagi sampai gerbang Desa Salenrang atau jalan kaki juga bisa. Kami yang masih memiliki semangat yang membara, memilih untuk berjalan kaki saja karena menurut info yang saya dapatkan, jaraknya tidak terlalu jauh dan juga matahari belum terlalu terik. 

Sejak di atas angkot tadi begitu masuk Kota Maros, tengoklah ke arah timur. Barisan pegunungan karst sudah memanjakan mata. Bentuknya itu lho, nggak beraturan tapi malah jadi unik tiada duanya gitu. Selain disajikan pemadangan yang memanjakan mata, jalanan yang kita lewati juga bakal dihiasi seliweran truk-truk container raksasa milik si pabrik semen yang menggerus pegunungan kapur yang indah itu sebagai bahan bakunya.

Saat itu kami kebingungan menemukan spot yang biasa buat foto-foto seperti yang saya lihat di internet. Secara pegunungan kapurnya ekstra panjang banget, terbentang dari selatan hingga ke utara sampai ke Kota Pangkep. Tapi akhirnya di tengah perjalanan kami, gerbang Desa Salenrang sudah menyapa. Letaknya ada di sebelah kanan jalan. Disitu juga tertera sambutan “SELAMAT DATANG DI KARST MAROS”. Kami masuk saja di desa yang ber-background pegunungan kapur tersebut. Setelah berjalan beberapa meter melewati dusun, kita akan menemukan area persawahan yang sangat mempesona. Mungkin dari sekian sawah yang pernah saya lihat, disitulah salah satu sawah yang paling unik yang pernah saya lihat. Dari kejauhan terlihat bebatuan dengan bentuk tak lazim tersebar di area persawahan tersebut.



melewati pematang sawah


menjumpai bebek berenang

dan itulah Taman Batu Rammang-rammang

Untuk menuju ke taman batu purba tersebut, perlu menyusuri pematang sawah yang tipis dengan sisi kanan kiri sawah yang becek. Kebetulan sih, saat itu lagi musim pengairan. Kanan kiri pematang sudah seperti kolam ikan aja. Sandal yang dipakai pun menebal karena lumpur yang menempel. Sampai di area bebatuan itu, saya mulai terkagum-kagum atas keunikannya. Subhanallah, saya seakan dibawa ke zaman purba. Bebatuan unik tersebar secara tak karuan di area persawahan berhiaskan pegunungan kapur yang indah menjadi pemandangan yang baru pertama saya dapati. Pepohonan  palem yang ada di sela-sela bebatuan juga makin menambah kesan purba saja deh. 


batuan purba,
kenapa bisa bentunya kaya gitu ya...???

Saya coba memegang salah satu tebing batu yang ada disana. Ternyata teksturnya mirip karang yang ada di laut dengan permukaan kasar dan kadang runcing. Bentuk uniknya bebatuan yang ada di taman batu Rammang-rammang saya kira terbentuk sedemikian rupa karena hempasan air atau angin sepertinya. Mungkin juga dulunya kawasan tersebut adalah lautan. Untuk lebih tepatnya coba kita tanyakan saja pada ahli batuan. Hehehe…

adek-adek penunjuk jalan

Cukup luas ternyata area taman batu Rammang-rammang hingga kami tak sempat mengeksplo semuanya, kami hanya berkeliling di spot tertentu saja saking bingungnya dari mana harus memulai. Perjalanan juga masih belum berakhir sampai di taman batu tersebut, masih ada satu tempat lagi yang bakal kami datangi. Masih ada di Maros juga kok, satu area pula. Cuman perlu menyusuri sungai dulu agar sampai di tempat yang tentunya punya keindahan yang luar biasa itu. Tempat itu adalah Dusun Berua, desa yang terisolir pegunungan kapur dan akses yang tersedia untuk menuju kesana hanya dengan perahu saja.

Bersambung...


Gallery Keindahan Taman Batu Rammang-rammang










Next, kami menuju Kampung Berua (klik)



1 komentar

Makassar hari Ke-2 "Pulau Samalona"
4/23/2014



Setelah hari pertama di Makassar yang diisi dengan berkeliling di tempat menarik yang ada di pusat kota, hari kedua baru terpikir hendak pergi kemana setelah saya tahu kalau di seberang kota ada beberapa pulau cantik yang menjadi destinasi favorit. Tepatnya beberapa saat sebelum masuk ke Benteng Rotterdam yang saat itu kami disamperin seorang om-om dengan dialek Makassar yang kental. Kami ditawarin apakah mau nyebrang atau tidak. Saat itu kami pun menolaknya, tapi tentunya sambil pikir-pikir sih. Sepertinya asik juga pulau yang dimaksud itu. 

Untuk hitungan hari pertama di Makassar, sebagai pemanasan cukup ke landmarknya dulu saja, Fort Rotterdam dan Pantai Losari. Karena banyak yang bilang kalau ke Makassar belum ke dua tempat itu belum afdhol rasanya.
Untuk hari kedua, kayaknya saya tergoda untuk menyambangi pulau yang ada di seberang seperti yang ditawarkan pada kami saat mau masuk benteng. Awalnya hanya menebak-nebak saja apa pulau yang dimaksud. Agung yang sudah browsing sebelumnya, katanya ada satu pulau cantik yang ada di seberang kota yang bernama Pulau Khayangan. Tapi ternyata dari om yang nawarin kapal tadi kami tahu ada beberapa pulau lagi yang juga ramai dikunjungi karena keindahannya. Salah satu lainnya adalah Samalona. Wow, Samalona… Kalau yang satu ini saya pernah denger deh. Tapi dimana ya… Pokoknya pernah, tapi karena menyangka pulau itu ada di tempat yang jauh makanya tak begitu saya tanggepin pas ada yang ngomongin tentang Samalona. 
 
Mendengar nama-nama pulau itu, rasanya bikin ngiler. Bayangkan saja, ada Pulau Khayangan. Dari namanya saja bisa terbayang bagaimana keindahannya. Satu lagi, Pulau Samalona. Hmm, kayak nama cewek yaa dan kayaknya cewek cantik pula. Yeah, kami pun mantap mengisi hari kedua dengan menjelajah pulau di seberang Kota Makassar.

Sebagai pengalaman dulu saat ke Pulau Bunaken dan Pulau Siladen, kapal  yang digunakan untuk menyebrang menggunakan sistem carter. Jadi harga yang dipatok adalah harga sewa satu kapal, bukan harga per kepala. Sehingga kalau makin banyak yang ikut berarti makin murah juga jadinya.

bukan boyband lhoo...

Sekiranya ada 7 orang yang berhasil diajak. Tapi satu kapal sebenarnya bisa memuat 8-10 orang. Pukul 7 kami janjian ketemu di depan Fort Rotterdam sebagai meeting point sekaligus karena memang dermaga pernyeberangan ada tepat di depan benteng tersebut. Seperti kemaren, kami menuju Rotterdam dengan berjalan kaki menyusuri jalanan kota dari Lapangan Karebosi. Cuman untungnya pagi-pagi gitu belum terlalu panas, nggak seperti kemaren yang panasnya nggak ketulungan. Secara siang bolong gitu jalan kaki di tengah kota.

Begitu sampai di depan benteng, kami ditawari untuk menyeberang sama om-om penyedia jasa penyebrangan. Namun om yang kali ini berbeda dengan yang hari pertama kemarin. Ada cerita menarik pagi itu saat kami mau menyeberang pulau. Karena om yang nawarin kami pada hari kedua berbeda dengan yang kemarin, saya pun berinisiatif menanyakan berapa harga sewa yang dipatoknya. Singkat cerita harga yang dipatok adalah Rp 400.000,- untuk dua pulau. Dibandingkan om yang kemaren, memang lebih menjanjikan yang kemaren sih yang bisa sampai di harga Rp 300.000,- untuk 3 pulau yaitu Pulau Lae-lae, Khayangan, dan Samalona.

Cerita menarik dimulai…
Om yang kedua merasa kami sudah deal dengannya. Padahal kami cuma menanyakan harga dan bisa dapat berapa pulau dengan harga segitu. Kami nggak pernah sekalipun mengatakan “IYA” pada tawarannya, mengangguk sebagai tanda isyarat setuju pun tidak. Kami bilang padanya kalau kami mau sarapan dulu di depan benteng. Om itu pun akhirnya pergi dan berkata “Nanti kalau ada yang nawarin kapal bilang saja sudah sama ENAL gitu yaa…”Lagi-lagi saya cuman diam dan tak memberi isyarat apapun menandakan setuju. Memang karena bingung apa yang dimaksud om itu. Kok bisa dia secara sepihak membuat keputusan. Mau bilang tunggu dulu om, e sudah kabur gitu aja.

8 komentar

Makassar Hari Pertama (Fort Rotterdam, Masjid Apung, & Pantai Losari)
4/22/2014



Sudah jadi hal wajib bagi saya jika ke tempat baru  untuk menyempatkan diri  mendatangi tempat indah yang ada. Entah itu keindahan alamnya, budayanya, maupun hal-hal yang menjadi ciri khas daerah itu yang tak bisa ditemui di tempat lain.

Ngomong-ngomong tentang tempat baru, sebenarnya saya juga baru memasuki minggu ketiga di Kota Majene, Sulbar untuk menjalani  penempatan kerja dari salah satu intansi pemerintahan. Tempat baru saya ini belum seberapa saya eksplore keindahannya. Baru satu pantai di Majene yang berhasil  saya sambangi. Pantai ini pula yang pertama kali tampil di halaman mesin pencarian saat diketikkan “Majene” di kotak pencarian. Tunggu saja, pastinya nanti bakal menjadi salah satu post di blog ini. Heheh…

Mungkin karena saking mendadaknya pengumuman penempatan sekaligus begitu jauh jaraknya dari rumah, alhasil satu barang yang teramat penting bisa lupa dibawa. Biasanya benda itu selalu dikantongi kalau pergi-pergi.

Yap, handphone saya tertinggal di rumah saat saya mau berangkat ke bandara. Apa jadinya saya tanpa hempina kesayangan. Masih bisa hidup sih memang, tapi mungkin pahit. Sepahit kopi tanpa gula.

Berawal dari situ saya malah bisa sampai di Kota Makassar untuk yang kedua kalinya. Kali pertama sih cuman mampir nginep setelah turun dari pesawat. Kali kedua ke Makassar ini dalam rangka megambil HP beserta SIM cardnya pada seorang teman yang bersedia menggantikan jasa titipan kilat konvensional. Dialah Agung Hercules, yang tak lain merupakan teman magang di KPP Pratama Salatiga. Kami di tempatkan di provinsi yang berbeda memang, namun masih dalam satu pulau. Pendek kata setelah melalui negosiasi dan segala macamnya, akhirnya kami putuskan untuk ketemuan di Makassar.

Dari Majene butuh hampir 6 jam perjalanan darat untuk sampai di kota yang dulunya bernama Ujung Pandang tersebut. Hal itu membuat saya memutuskan kapan hari yang paling strategis untuk mengambil salah satu benda kesayangan itu, ditambah masih bisa melakukan hal lain yang bermanfaat. Apalagi kalau bukan jalan-jalan. Makassar yang saya tahu merupakan salah satu kota yang punya banyak tampat menarik untuk dikunjungi, apalagi makanannya sepertinya laziz laziz. Cotto, Konro, Pallu Bassa, dkk… nyams deh pastinya...

Saya putuskan pergi ke Makassar di long weekend pertengahan April 2014 ini yang mana mulai hari Jumat hingga Minggu bisa dimanfaatkan untuk mengeksplor sebagian keindahan yang dimiliki Kota Anging Mamiri itu. Kenapa hanya sebagian Tak lain karena kalau semuanya dieksplore mungkin butuh berbulan-bulan untuk menyelesaikannya sebab saking banyaknya tempat menarik disana.

Tengah malam saya berangkat dari Majene menuju Makassar menggunakan bus istimewa dengan jok yang super enak karena bisa menyelonjorkan kaki dengan bebas dan juga mnggunakan suspensi udara. Kenapa saya memilih bus yang sebegitu memanjakan diri banget yak. Hmm, karena hanya bus itulah yang saya tahu punya jurusan ke Makassar dari Majene. Tiketnya juga lumayan menguras kantong bagi backpacker yang pengen ngirit kayak saya. Rp 110.000,- sekali jalan dari Majene ke Makassar. Tapi itu tadi, yang dibayarkan tentu saja sebanding dengan yang didapatkan.

Pendek kata, setelah menempuh perjalanan darat selama 5.5 jam, akhirnya saya pun dengan selamat mendarat di tanah Makassar. Turun di Terminal Daya Kota Makassar pas pagi buta seperti waktu itu memang belum ada angkotutan umum atau bahasa lokalnya pete-pete, kecuali ojek yang memang selalu stanby menunggu “mangsa” yang baru turun dari bus.

Hari pertama tentunya saya berencana mau ngambil HP dulu yang menjadi hal inti kenapa saya ke Makassar. Baru setelahnya saya isi dengan jalan kesana sini untuk menemukan hal menarik yang ada di Makassar. Kata orang sih belum ke Makassar kalau belum foto di Pantai Losari. Karenanya tempat itulah yang pertama mau didatangi. Cukup mudah sebenarnya untuk sampai ke Pantai Losari, namun karena kekurangpahaman kami mengenai trayek-trayek pete-pete atau angkutan umum, jadilah kaki-kaki ini yang nantinya bakal jadi angkutan pengganti jikalau memang kami kesusahan mencari pete-pete menuju kesana.

MENUJU PANTAI LOSARI, MAMPIR KE BENTENG ROTTERDAM

Yang kami ketahui kalau untuk ke Pantai Losari dari terminal Daya, kami harus naik pete-pete dulu jurusan sentral. Setelah itu kami tak tahu harus naik pete-pete mana lagi. Dari angkot pertama, kami turun di dekat lapangan Karebosi yang tak lain merupakan titik 0 km Kota Makassar. Ternyata di situ jalanan mulai menjadi satu arah saja. Sempat membuka google maps dan kami melihat ada spot menarik satu lagi yaitu Benteng Rotterdam yang jaraknya sepertinya tak terlalu jauh dari tempat kami berada saat itu. Lebih dekat jaraknya dari pada Pantai Losari yang awalnya ingin kami datangi terlebih dulu.

Dengan berbekal kaki yang kuat, di tengah terik matahari Makassar, kami berjalan mendekati Benteng Rotterdam berbekal petunjuk peta digital di HP. Cukup lumayan agak jauh memang total perjalanan yang harus ditempuh dari sentral ke benteng. Tapi bagi saya itu adalah hal yang mengasikkan karena memang judulnya adalah jalan-jalan, maka cocok sepertinya kalau memang ditempuh dengan jalan kaki. Hahaha #berusahamenghiburdiri…

BENTENG ROTTERDAM


Benteng Rotterdam merupakan sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa yang dibangun sekitaran tahun 1.545 pada masa raja yang kesembilan bernama Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumpa’risi. Awalnya benteng tersebut bernama Benteng Ujung Pandang, namun kedatangan Belanda kala itu membawa pengaruh besar pada pemerintahan yang ada. Sebuah perjanjian yang bernama Perjanjian Bungaiyya mengharuskan Kerajaan Gowa harus menyerahkan benteng tersebut ke tangan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman. Hingga akhirnya benteng tersebut berubah nama menjadi Fort Rotterdam.
2 komentar