Perjuangan Menuju Puncak Gunung Arjuno
4/11/2014



Pendakian Gunung Arjuno pada akhir Maret 2014 ini bisa dibilang adalah penyelesaian misi yang tertunda. Pasalnya di satu hari setahun silam pernah terbesit asa untuk menggapai puncaknya. Namun, karena jalur pendakian yang kabarnya sedang terjadi kebakaran hebat, memaksa kami menerima kenyataan bahwa ada penutupan sementaragunung tersebut untuk kegiatan pendakian. Padahal kami sudah berada di depan basecamp dengan atribut dan peralatan yang lengkap dan siap untuk menapaki Puncak Ogal Agil yang berketinggian 3.339 mdpl. Hingga entah bagaimana ceritanya, saat itu rencana tersebut teralihkan pada “pendakian” Gunung Bromo sebagai obat kecewa.

Kesempatan untuk menyelesaikan misi yang belum terselesaiakan alhamdulillah masih bisa kami dapatkan. Ngomong-ngomong soal kesempatan, kalau ingat kejadian sebelum berangkat mendaki, saya bisa ketawa-ketawa sendiri. Peristiwa yang masih hangat di benak tersebut pastilah tak akan saya, Piton, Emad, dan Bandon lupakan. Karena diantara kami ber-6 yang rencananya bakal mendaki Gunung Arjuno pada tanggal 29 – 31 Maret tersebut, kami ber-4 lah yang memang sedang menanti penempatan. Betapa terkejutlah kami ketika hendak berangkat ke Jawa Timur setelah sebelumnya merundingkan perencanaan pendakian hingga membuat Plan A, Plan B, hingga Plan C, mendapatkan berita yang telah kami nanti sekian lamanya. Apalagi kalau bukan pengumuman penempatan. Kami punya cerita masing-masing saat menerima kabar itu. Saya pribadi mendapat kabar mengejutkan itu melalui telepon seorang teman magang yang mengabarkan bahwa pengumuman penempatan sudah keluar. Lebih mengejutkannya lagi bagi kami yang berharap penempatan di Pulau Jawa, kali itu harus menerima kenyataan bahwa kami harus kembali merantau ke pulau seberang yang masih sepulau dengan tempat pendidikan kami, Prodip 1 Perpajakan STAN Manado. Yap, kami diberi penempatan kerja di kota-kota di Pulau Sulawesi. Saya sendiri mendapat kesempatan untuk mengenal Majene sebagai tempat hidup saya satu atau beberapa tahun kedepan, hehe.

Oh my God, mimpi apa saya semalam ya... Mendapat kabar mengejutkan seperti ini persis beberapa menit saja dengan keberangkatan saya ke Jawa Timur untuk menuntaskan misi pendakian Gunung Arjuno. Tapi rencana tetap harus berjalan, saya pun bertingkah seolah tak terjadi apa-apa saat dihadapan orang tua. Kabar mengejutkan itu tak serta merta saya teruskan kepada mereka. Kalau mereka tahu saat itu juga, bisa jadi pendakian kali itu gagal lagi deh.

Lupakan masalah penempatan. Saatnya menuntaskan misi. Haha, mencoba tegar namun selama perjalanan tetap saja Majene menjadi topik utama di perbincangan dalam hati.

Rombongan dari Jawa Tengah rencananya berkumpul di Terminal Tirtonadi Surakarta. Ada saya, Emad, dan Bandon. Saat bertemu, kami pun langsung saling tertawa. Mentertawakan sesuatu yang seharusnya tak layak kami tertawakan.  Ya, itulah nasib kami yang bakal menghabiskan masa muda kami lagi-lagi di perantauan.

Setelah berkumpul, perbincangan lebih baik kami lanjutkan saja di dalam bus saja agar waktu tak terbuang sia-sia. Kami memilih bus jurusan Surabaya dengan harga karcis Rp 38.000,-.

Singkatnya, sampailah kami di Terminal Purabaya a.k.a Bungur Kota Surabaya yang saat itu masih sekitaran pukul 4 pagi. Kami awali hari pertama kami di tanah Jawa Timur dengan sholat Subuh di masjid terminal. Tak lupa kami juga mengabari Piton kalau kami sudah turun dari bus.

Meeting point selanjutnya adalah Terminal Pandaan, Pasuruan. Disana lah kami berempat termasuk Piton akan berkumpul untuk persiapan menuju basecamp pendakian Gunung Arjuno – Welirang via Tretes.

Kenapa kami memilih Tretes, simpel saja… Karena kami pernah sampai disana setahun yang lalu dan pulang dengan tangan hampa karena pendakian saat itu ditutup. Selain itu karena dengan mendaki melalui Tretes kita akan melalui dua trek gunung dengan medan yang kontras sekaligus, yaitu medan Gunung Welirang yang kebanyakan berbatu cadas namun cukup lebar disesuaikan dengan potensinya sebagai sumber belerang yang setiap harinya ditambang dan diangkut dari kawah hingga ke bawah menggunakan jeep/hartop, sedangkan di lain sisi trek Gunung Arjuno yang terjal dan tipis dengan jurang yang sangat dalam di sisi jalur pendakian, tentunya sensasi itu tak didapatkan di jalur lain. Tapi kalau soal sensasi, saya akui setiap jalur pendakian Gunung Arjuno – Welirang yang ada memang punya daya tarik sendiri-sendiri. Mulai dari jalur Tretes dengan keistimewaan banyak tersedianya sumber air dan keistimewaan lain yang sudah saya sebutkan tadi, jalur Lawang dengan hamparan kebun tehnya yang sangat indah dan juga akan melewati Alas Lali Jiwo (Hutan Lupa diri) yang melegenda, jalur Purwosari dengan situs-situs bersejarah yang tersebar di sepanjang jalur pendakian, hinga jalur Batu Selecta dengan wisata taman bunganya.


pemandangan di sepanjang jalur Gn. Welirang

Gn. Penanggungan jadi pemandangan
setia selama pendakian

Kami sebenarnya mendaki ber-6, namun Garpit senior kami di STAPALA dan kawannya, Oput, rencananya akan menyusul kami. Kami berempat menuju basecamp duluan dengan menaiki mobil khusus pendaki yang tersedia di Terminal Pandaan. Sepengetahuan saya mobil tersebut memang dikhususkan untuk pendaki karena saat ada pendaki yang hendak menaiki mobil lain yang sama-sama menuju Tretes namun dengan penumpang yang kebanyakan penduduk sekitar yang hendak ke pasar, diarahkan untuk tidak menaiki mobil tersebut karena kata pak supirnya sudah ada sendiri mobil yang ke Tretes khusus untuk pendaki. Dengan membayar sebesar Rp 10.000,- per orang, kami diantarkan tepat di halaman basecamp pendakian.

Sesampainya di basecamp kami terpukau pada keadaan area parkir motor yang penuh. Saya pun bertanya dalam hati apa semua itu motor pendaki Arjuno ya. Sepertinya bakalan rame nih di atas. Selain parkiran motor yang penuh, pendaki lain yang hendak bersiap naik pun juga memenuhi area depan basecamp. Memang sih saat itu Gunung Arjuno – Welirang statusnya berada di level damai-damai aja tidak seperti Merapi, Slamet, dan beberapa lainnya yang akhir-akhir itu dikabarkan sedang bergejolak.

Tak berlama-lama, kami mengurus perijinan dan administrasi. Syaratnya mudah kok, cukup diwakilkan ketua tim. Dengan meninggalkan KTP atau fotokopinya dan menulis surat perjanjian beserta biodata anggota tim dalam secarik kertas. Setelahnya, cukup membayar Rp 30.000,- untuk 4 orang dan kami pun siap memulai pendakian.

Oiya, berikut saya cantumkan sekalian beberapa plan yang rencananya akan kami terapkan setelah memperthitungkan hal-hal yang dianggap penting.
2 komentar

Gunung Kendil, Tempat Memandang Rawa Pening Secara Utuh
3/22/2014



Di tengah perjalanan pulang kantor, seperti biasa pemandangan Gunung Merbabu menjadi sajian pokok setiap harinya. Namun di satu sore, sempat terbesit satu pikiran aneh tentang gunung. Bukan apa-apa sih. Sembari memandang Merbabu yang tampak gagah, saya berfikir bagaimana jadinya ya kalo gunung-gunung itu semuanya sama. Sama dalam hal bentuk, tingginya, hingga medan pendakiannya. Mungkin tak ada cerita pendakian yang menarik kali ya. Tuhan memang maha sempurna, hingga menciptakan gunung pun dengan berbagai karakteristiknya masing-masing. Sama seperti manusia, jika semua manusia itu punya karakteristik yang sama tentunya dunia akan terasa hampa tak berwarna.

Oiya, seminggu yang lalu saya sempat naik satu bukit di sekitaran Danau Rawa Pening. Rencana mau naik bukit itu sudah lama direncanakan. Bukit memang namanya, namun miniatur gunung itu pun juga punya karakteristik tersendiri. Penduduk sekitar mengenal bukit itu dengan sebutan Gunung Kendil. Gunung atau pun bukit tak masalah bagi saya. Memang sudah terlanjur jatuh cinta sama ketinggian mau dibilang apa pun oke oke aja. Di bilang gunung tingginya cuman sekitaran 800-an mdpl aja, kalau dikatakan bukit sepertinya lebih cocok tapi penduduk sekitar sudah akrab dengan sebutan gunung terhadapnya.

Gunung Kendil,
puncaknya belum keliatan

Sebelumnya tau kan tentang Danau Rawa Pening ??? Satu danau dengan legenda manusia jelmaan ular “Baru Klinthing” yang mengutuk satu desa dengan penduduk yang sombong dengan menenggelamkannya menjadi sebuah danau. Danau inilah yang juga menjadi daya pikat tersendiri saat pendakian Gunung Kendil. Di puncaknya kita bisa melihat luasnya danau seluas sekitar 2.600 Ha tersebut secara utuh. Jadi Gunung Kendil tersebut layaknya gardu pandang alami untuk menikmati indahnya Rawa Pening dari ketinggian.

Rawa Pening dari ketinggian

Gunung Kendil berada tepat di sebelah utara Gunung Telomoyo dan sebelah barat daya Danau Rawa Pening. Sebelumnya, saya dan Angga tak seberapa tahu tentang akses menuju puncak Gunung Kendil. Sumber yang biasanya kami andalkan tak memberi secercah petunjuk. Biasanya dengan mengetik kata  kunci di kotak mesin pencarian, dalam sekejap informasi mengenai destinasi yang akan dituju akan muncul. Kali itu malah Gunung Kendil yang lain yang keluar di mesin pencarian, bukan yang kami maksud. Kalau sudah begitu, modal nekat menjadi modal satu-satunya untuk mencapai puncak Gunung Kendil. Nekat disitu saya artikan yang penting berangkat dulu, masalah lokasi tepatnya bisa tanya sama penduduk sekitar. Bukan nekat yang tanpa tanggung jawab.

Dari Kota Salatiga, Gunung kendil bisa terlihat jelas bersanding dengan Gunung Telomoyo meski tingginya masih kalah jauh. Dengan bekal sudah mengetahui posisinya dari jauh, berarti kami tinggal memacu kendaraan saja mendekatinya. Di satu pagi pada Hari Sabtu kami sepakat bakal ketemu di depan objek wisata Bukit Cinta yang ada di pinggiran Rawa Pening. Setelah berkumpul, kami lanjutkan saja melintasi jalanan Salatiga – Banyubiru ke arah lebih barat lagi. 

5 komentar

Mengintip Bidadari Mandi di Air Terjun Klenting Kuning - Sumowono
3/08/2014



Yeahhh, akhirnya Sabtu lagi… Saatnya merealisasikan rencana yang telah dibuat. Tak lain apalagi kalau bukan rencana untuk menyatu dengan alam Indonesia. Awal Maret seperti ini cuaca sih sudah mulai bersahabat, tapi masih mood mood-an tuh. Kadang bisa cerah banget tapi seketika bisa jadi mendung menggelayut.

Rencana awal sebenarnya mau naik satu bukit di sekitaran Rawa Pening, tapi seperti yang dibilang tadi kalau cuaca masi belum sepenuhnya bersahabat. Jadilah rencana naik-naik ke puncak bukitnya ditunda dulu minggu depannya. Nha, terus jadinya kemana dong. Plan B belum disiapin lagi. Hmmm… Putar otak putar pikiran dikombinasikan dengan keterampilan dalam mem-browsing destinasi. Dan akhirnya dapatlah beberapa calon destinasi yang bakal dikunjungi. Kesemuanya adalah air terjun alias curug atau kalau Bahasa Jawa disebut grojogan. Awalnya dapatlah tiga air terjun indah yang bakal dipilih. Tiga-tiganya belum pernah sama sekali saya kunjungi. Tapi sepertinya harus memilih satu saja deh. Karena itu maka dipilihlah yang paling unik sekaligus menarik. Jatuhlah pilihan pada Grojogan Klenting Kuning.

Wow… Grojogan Klenting Kuning??? Dari namanya saja sudah unik dan mewakili nama seorang gadis cantik yang akhirnya dipilih oleh Ande-ande Lumut diantara saudara-saudaranya. Apa hubungnnya ya dengan cerita rakyat tersebut, apa jangan-jangan memang ceritanya berasal dari daerah tersebut atau mungkin karena air terjun itu menjadi tempat mandi si Klenting Kuning, hmmm. Dari pada penasaran berangkatlah saya dan Angga menuju TKP setelah pagi harinya cari-cari info tentang lokasi tepatnya keberadaan air terjun dengan ketinggian sekitar 8 meter tersebut.

Informasi yang berhasil kami dapat dari dunia maya menyebutkan bahwa Air Terjun Klenting Kuning berada di Desa Kemawi Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang. Kalau dari petunjuk yang hanya demikian saja tentunya masih kebingungan untuk mencarinya, maka info tambahan selanjutnya adalah bahwa kami harus menemukan dulu terminal Sumowono dan barulah ambil lurus saja dari jalan yang dilalui tanpa berbelok kiri. Saat itu kami dari arah Ambarawa. Setelah melewati terminal, kita pacu saja kendaraan sekitar 4 km maka di sebelah kanan jalan akan kita temukan petunjuk yang menandakan lokasi air terjun berada. Simpelnya sih kalau teman-teman pernah ke Candi Gedong Songo maka kalau mau sekalian ke Air terjun Klenting Kuning tinggal naik terus saja di jalan beraspal depan gerbang masuk candi.

Setelah melihat petujuk di pinggir jalan, kami masuk gang kecil dengan jalan yang sudah bagus terplester semen. Tak begitu jauh untuk sampai di lokasi parkir, cukup 600 m saja dari jalan raya. Sampai di lokasi parkir kami terdiam sejenak melihat kesepian yang ditampilkan saat itu. Kami hanya berpapasan dengan beberapa penduduk yang tengah meladang. Selain itu kami juga hanya disambut dengan loket yang tak berpenjaga. Alhasil kami masuk tanpa dipungut biaya. Sepi maksimal men serasa di ujung dunia. Terlebih lagi karena lokasinya yang berada di lereng Gunung Ungaran, suasana sepi terkesan makin mencekam dengan datangnya kabut yang turun dari puncak gunung.
8 komentar

Menikmati Borobudur Nirwana Sunrise - Bukit Punthuk Setumbu
2/21/2014



Menunggu sunrise di satu tempat yang tinggi sudah lama tak saya rasakan. Terakhir naik gunung pada 22 Desember 2013 lalu ke Merbabu setelah dinanti-nanti ternyata sang mentari enggan menampakkan dirinya. Sabar menunggu hingga bulan berganti bahkan tahun ikut berganti masih juga cuaca yang bersahabat tak kunjung datang. Cuaca di akhir hingga awal tahun memang agak sedikit kurang bersahabat. Terlebih lagi Indonesia tengah diuji dengan bencana alam yang silih berganti, mulai dari erupsi Gunung Sinabung hingga yang paling terakhir yaitu bencana letusan Gunung Kelud yang abu vulkaniknya bisa sampai Jawa Barat bagian timur. Dari rentetan peristiwa memilukan tersebut saya jadi perlu mengerem dulu keinginan untuk naik gunung untuk sementara hingga keadaan membaik.

Untuk menawarkan hasrat kerinduan akan sunrise yang hangat, rasanya pergi ke satu tempat tinggi yang tak terlalu beresiko (red: bukan gunung) bisa  sedikit mengobatinya. Punthuk Setumbu sepertinya cocok nih, apalagi ada temen sekantor yang rumahnya deket-deket situ, terlebih satu desa dengan bukit tempat memandang siluet Borobudur tersebut. 

"Punthuk Setumbu" sendiri merupakan sebuah bukit yang terletak di sebelah  barat Candi Borobudur yang masuk wilayah Desa Karangrejo Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang. Keistimewaan bukit tersebut selain menjadi tempat yang pas untuk menikmati indahnya mentari yang keluar dari peraduannya, tapi juga bisa menikmati negeri diatas awan yang berpadu dengan siluet Candi Borobudur dari kejauhan.


Candi Borobudur dari kejauhan

Borobudur nan megah

siluet Borobudur yang tampak mistis eksotis ditengah rerimbunan pepohonan

Pertama tahu kalau ada tempat yang sebegitu indah itu tentunya dari dunia maya. Foto-foto yang dipamerkan para fotografer sungguh membuat saya ngiler. Kalau ke Candi Borobudurnya sendiri melihat dari dekat kemegahan salah satu keajaiban dunia tersebut kalau saya hitung-hitung sudah 3 kali termasuk saat Waisak 2012 lalu, tapi kalau melihatnya dari kejauhan berpadu dengan kemunculan sunrise belum pernah sama sekali. Pernah terbesit asa untuk mencari letak bukit itu seorang diri. Maklum lah, kadang saya suka penasaran sendiri sama tempat indah yang belum pernah saya datangi. Tapi ternyata saya tak perlu susah-susah mencarinya apalagi belum tentu juga bisa sampai di lokasi tersebut. Pada saat masuk kantor pertama ternyata ada teman baru juga yang rumahnya di Kecamatan Borobudur. Tanya-tanya ternyata Punthuk Setumbu deket dari rumahnya. Alhasil saya pun mengajaknya untuk kesana sekaligus menunjukkan jalan dan kalau bisa sekalian ngasih tebengan buat nginep barang semalam gitu hehe. Yap, akhirnya fix kami memilih hari dan berangkatlah saya ke Magelang.
4 komentar

Mendaki Merbabu Tanpa Sunrise, OK FINE...!!!
1/24/2014



Setiap pendaki pastilah sudah tahu akan konsekuensi jika mendaki gunung saat musim hujan. Selain hujannya itu sendiri yang bakal mengurangi kenyamanan dan kenikmatan dalam perjalanan, tapi beberapa akibat yang ditimbulkan karena adanya hujan itu pula yang lebih membuat para pendaki akan berpikir ulang untuk mendaki di musim hujan. 

Jalan becek, pakaian basah, bawaan tambah berat, dan masih banyak lagi lah hal-hal yang merupakan akibat dari adanya hujan yang menambah kekurangnyamanan dalam pendakian. Tapi bagi pendaki yang sudah nggak bisa nahan keinginan mendaki meski tengah berada di musim penghujan, agaknya perlu adanya persiapan-persiapan yang lebih diperhatikan. Seperti pakaian ganti yang harus dibawa lebih banyak karena kalau mendaki di musim hujan mau gak mau pastilah pakaian yang dipakai pas mendaki bakal basah, sampai ke manajemen pendakian yang disesuakan dengan keadaan yang bisa berubah sewaktu waktu semisal dalam perencanaan memilih tempat ngecamp yang nggak bisa direncanakan secara fix sebab bisa saja kita berencana nenda di Pos X namun karena cuaca dan kondisi yang kurang mendukung kita harus siap menerima harus ngecamp di pos sebelum Pos X, dan masih banyak lagi lah persiapan yang berbeda dibanding kalau kita mendaki di musim yang bersahabat.

Saya pribadi juga terkadang berpikir dua kali terhadap ajakan kawan untuk naik gunung ditengah hujan yang sering-seringnya turun seperti pas akhir tahun hingga awal tahun seperti saat ini. Namun karena rasa rindu akan hawa gunung yang ngangenin sudah tak tertahan, maka ajakan tersebut terasa berat untuk ditolak. Ya, tanggal 22 Desember 2013 lalu salah satu teman SMA yang tengah mudik dari perantauan di Pulau Dewata sana pengen naik Merbabu. 

Asonk yang telah menjelajahi gunung-gunung di Bali saya pikir sangat merasa berdosa sekali kalau gunung yang paling dekat dengan rumahnya sendiri malah belum pernah didakinya. Haha, rasa itu juga pernah saya rasakan. Pernah pula dirasakan Angga yang kala itu juga ngajakin naik Merbabu. Namun Angga agaknya lebih sedikit beruntung karena saat itu dia ngajaknya pas cuaca sedang bersahabat.

Nah, giliran Asonk saat itu lah yang sedikit agak tidak mengenakkan karena cuaca sedang galau-galaunya. Tapi tak apalah, mumpung pulang kampung tak ada salahnya sekalian nanjak gunung sebelah rumah. Rencananya sih dia langsungan saja setelah turun dari pesawat langsung menuju Boyolali sebagai meeting point kami karena kami mau naik via Selo saja. Dasar Asonk, habis merantau jauh-jauh ke Bali waktunya mudik bukannya pulang ke rumah dulu malah yang di dahulukan naik gunungnya. Hahaha, Top deh.

Bertemulah kami di terminal Boyolali. Hujan sedari keluar rumah tadi hingga sampai di Boyolali sangat setia menemani. Tak lama kami langsung saja tancap gas menuju basecamp. Hujan, hujan, hujan, dan masih tetap hujan hingga akhirnya kami sampai di basecamp pun masih tetap hujan.

Sampai basecamp kami langsung masuk saja dan mengurus administrasi. Walah, sepi banget ternyata. Hanya ada beberapa motor yang sudah dititipkan dan beberapa pendaki yang juga mau naik. Sepertinya kami harus mengawali pendakian sudah dengan memakai jas hujan karena nggak mungkin kami menunggu hujan reda. Bakal sampe malem kali ya. Sampe basecamp saja sudah jam setengah 6 sore.

Benar saja, kami memulai langkah pertama kami dengan jas hujan yang sudah dipakai. Saya akui memang saya paling nggak betah memakai jas hujan pas mendaki. Selain keringat makin banyak karena penguapan terhenti karena jas hujan tapi juga untuk bergerak jadi kurang bebas.

Rencana awal kami sebenarnya pingin mendirikan camp di pos sabana tapi apa daya karena cuaca yang terus hujan dan Asonk yang belum istirahat sedari perjalanan dari Bali tadi maka jadilah kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos II. Begitu tenda berdiri hujan agak lumayan reda namun langit masih terlihat mendung. Untunglah malam itu kami masih kebagian hiburan malam berupa kerlap-kerlip lampu Kota Solo dan sekitarnya yang memanjakan mata didinginnya malam itu.

Kerlap-kerlip bintang... eh lampu dink... 

tenda kami dan tetangga..

Lelah yang menghinggapi raga membuat kami langsung terlelap begitu masuk di hangatnya sleeping bag. Hingga kami terbangunkan oleh alarm yang kami set di jam 4 pagi. Kami tidak buru-buru mengejar sunrise di puncak karena di Pos II tempatnya cukup terbuka dan langsung menghadap ke timur. 

6 komentar

Menikmati Pergantian Tahun di Pantai Indrayanti dan Drini
1/05/2014



Pergantian tahun bagi sebagian orang dianggap hal yang luar biasa, tapi ada pula yang menganggapnya sesuatu yang tak ada bedanya dengan pergantian hari biasa. Saya akui kalau saya pribadi kadang plin plan dalam menilai perayaan tahun baru tersebut. Kadang-kadang saya menganggapnya menjadi hal yang biasa, tapi ada kalanya sebaiknya dinikmati dengan cara yang berbeda karena momen tersebut hanya terjadi setahun sekali. Nha, setelah pergantian tahun 2013 lalu saya nikmati dengan hal yang tak istimewa, maka kali ini pada pergantian tahun 2014 saya rasa perlu ada yang sedikit istimewa.

Sempat kepikiran buat menghabiskan malam pergantian tahun di puncak gunung. Tapi setelah berpikir dua kali dengan pertimbangan cuaca yang lagi labil dan betapa ramainya jalur pendakian di saat malam pergantian tahun tersebut membuat saya mengurungkan niat itu. Lagian seminggu sebelumnya juga sudah sempet naik Gunung Merbabu dengan ditemani hujan sepanjang perjalanan dari basecamp hingga sampai ke basecamp lagi tanpa oleh-oleh kenangan indah pemandangan menakjubkan seperti yang didapat saat pendakian sebelumnya karena sesampai di puncaknya hanya bisa memandang kabut tebal yang sangat membatasi jarak pandang.

Merasa trauma kalau naik gunung bakal dapet kabut lagi, alhasil saat menentukan bakal dimana tempat istimewa untuk menikmati pergantian tahun adalah pantai. Bukan semata mata ide saya sih. Ide itu muncul melalui satu obrolan saat kumpul-kumpul di mushola KPP Pratama Salatiga. Kebetulan kami semua saat itu sedang dalam masa pemagangan di kantor tersebut sepakat kalau ada baiknya kami semua mengukir kenangan indah dengan menghabiskan detik-detik terakhir tahun 2013 bersama-sama sebelum ditempatkan secara definitif di kantor masing-masing yang entah dimanakah berada.


Selasa, 31 Desember 2013 setelah jam kantor usai, kami semua sudah siap untuk memulai perjalanan menuju Gunung Kidul, DIY menuju salah satu pantainya. Kami sebelumnya belum menentukan di pantai mana tepatnya karena saking banyaknya pantai indah di Gunung Kidul. Tapi saya tebak saja kalau kami bakal ke Pantai Indrayanti. Perkiraan itu karena Pantai Indrayanti merupakan salah satu pantai yang menjadi favorit.

Kami berdelapan menuju lokasi tujuan dengan mobil sewaan dengan Indro yang menjadi drivernya. Dari kami semua memang dia yang paling berpengalaman dalam hal setir menyetir dan sepertinya tak ada yang bisa jadi driver cadangan. Semoga saja kuat ya Ndro dan yang penting jangan sampai ngantuk.

Di sepanjang perjalanan kami belum menemukan keramaian layaknya malam pergantian tahun, namun keramaian baru kami temui saat kami melintasi satu bukit yang kerap disebut sebagai Bukit Bintang di daerah Patuk, Gunung Kidul. Motor-motor pengunjung sudah penuh di area parkir yang mungkin sudah diperluas dari hari biasa. Muda mudi juga sudah memadati objek wisata tersebut yang menanti dinyalakannya kembang api sebagai tanda tahun akan segera berganti. Tempat tersebut yang letaknya berada di ketinggian serasa pas banget untuk menikmati kembang api di tengah riuhnya kerlap-kerlip lampu kota. Kalau hari biasa pemandangan di tempat tersebut sudah sangat indah dengan gemerlap lampu Kota Jogaja, apalagi kalau ditambah dengan nyala kembang api pasti pemandangan makin oke.

Kami lewati saja keramaian itu dan melanjutkan lagi perjalanan masih lumayan jauh. Eits, kami masih menemukan keramaian satu lagi di satu daerah di Wonosari. Kali itu sedang diadakan acara konser dangdut dengan artis Fia Vallen sekaligus pengiringnya grup Om Sera. Keramaian kali ini rasanya melebihi ramainya di Bukit Bintang tadi karena kemacetan agak lumayan mengular.

Wowh, akhirnya bisa melepaskan diri dari keramaian itu dan melanjutkan lagi perjalanan yang hampir sampai di tujuan. Kami akhirnya menemukan gerbang loket masuk kawasan pantai-pantai di Gunung Kidul. Setelah mengurus administrasi dengan membayar sesuai jumlah orang yang ada di mobil kami langsung tancap gas saja. Deretan pantai-pantai satu per satu kami lewati sembari memilih mana yang cocok. Hmmm, benar saja ternyata yang menjadi tempat berakhirnya pencarian adalah di Pantai Indrayanti. Mencari tempat parkir mobil saja susah nih, kebayang kan gimana ramenya di pantainya. Akhirnya ketemu juga lapak kosong buat markir mobil.

Kami turun dan langsung mencari tempat yang pas buat duduk-duduk menunggu kembang api dinyalakan sambil menghirup udara malam Pantai Indrayanti yang tak terlalu dingin. Kami disana menggelar banner yang sudah kami bawa sebagai alas dan juga mempersiapkan perlengkapan buat masak-masak. Kami pergi ke pantai tapi kebanyakan yang dibawa adalah alat-alat untuk naik gunung. Jadilah suasana malam itu yang berpadu antara wisata pantai dengan atmosfir pendakian.

Tak berapa lama ada beberapa kembang api yang dinyalakan dan kami lihat jam ternyata memang hari, bulan, dan tahun sudah berganti menjadi 01-01-2014. Kami pun terdiam sejenak dengan kepala terdongak menikmati percikan kembang api dengan warna dan bentuk yang indah. Beginilah beberapa penampakan warna-warni kembang api yang berhasil ditangkap kamera.

6 komentar

MENITI RATUSAN ANAK TANGGA DI MAKAM PAJIMATAN IMOGIRI
12/27/2013



Perjalanan saat itu tak berhenti usai menikmati eloknya bangunan peninggalan masa lampau di Kotagede. Setelahnya kami berencena mengunjungi Istana Pakualaman sekaligus berwisata kuliner di warung tenda di sekitar situ. Tapi entah bagaimana ceritanya saya yang hanya mengekor di belakang menuruti panduan Uul dan Angga yang memacu motor di depan seolah berpindah haluan menuju Makam Raja Mataram, namun bedanya sekarang yang ada di Imogiri. Pikir saya apa mereka membatalkan rencana yang tadi kami bicarakan biar sekaligus tema perjalanan hari itu adalah trip ziarah ke makam Raja-raja Mataram. Akan tetapi sebenarnya hal itu berawal dari saya yang sok tahu memilih jalan saat keluar Kompleks Makam Kotagede. Awalnya sih saya keluar kompleks makam tersebut duluan dan dua teman saya di belakang. Jalannya kan sama saja, lewat pasar lalu ketemu jalan raya yang tadi kami lewati. Eh, ternyata saya salah pilih jalan. Lebih uniknya lagi dua teman saya yang ada di belakang juga diam saja seolah tak ada yang salah dari jalan yang dipilih itu. Dari situlah perjalanan malah mengarah ke Imogiri. Tak ada salahnya lah jika sekalian mengunjungi kerabat Raja-raja yang dimakamkan di Kotagede tadi. Jadilah kami meluncur menuju kompleks makam yang berada di salah satu dataran tinggi di deretan Pegunungan Seribu. Jaraknya, hmm cukup lumayan agak jauh sedikit lah.

Makam Imogiri tak lain adalah kompleks makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya yang berada di Ginirejo, Imogiri Kabupaten Bantul. Makam ini didirikan antara tahun 1632 – 1640 M oleh Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo, Sultan Mataram ke-3 yang masih keturunan dari Panembahan Senopati, Raja Mataram pertama.



Setelah Mataram terpecah menjadi 2 bagian melalui Perjanjian Giyanti tahun 1755, yaitu Kasunanan Pakubuwono di Surakarta dan Kasultanan Hamengkubuwono di Yogyakarta, maka tata letak pemakaman dibagi 2. Bagian sisi timur diperuntukan bagi raja-raja dari Kasultanan Yogyakarta dan sebelah barat untuk pemakaman raja-raja dari Kasunanan Surakarta. Proses pembangunan makam Pajimatan Imogiri diperkirakan berlangsung selama 13 tahun, yang dimulai pada tahun 1632. Pada tahun 1645 makam ini digunakan untuk memakamkan raja besar Mataram, Raja Mataram yang pertama dimakamkan di Imogiri yaitu Sultan Agung Hanyokrokusumo. Beliau sendiri lah yang sebenarnya sudah memutuskan bahwa Imogiri menjadi makamnya suatu saat nanti setelah beliau wafat.


Konon kabarnya mengenai pembangunan kompleks Makam Pajimatan Imogiri bahwa pada suatu ketika Sultan Agung bersembahyang di Mekah. Di sana ia berkata kepada seorang ulama bahwa ia ingin dimakamkan di Mekah. Permintaan itu ditolak ulama tersebut dengan halus. Beliau disarankan untuk tetap dimakamkan di Jawa (Mataram) karena ia adalah panutan atau pimpinan masyarakat Jawa (Mataram). Akan tetapi Sultan Agung tetap bersikeras untuk dapat dimakamkan di Mekah. Lantas karena sang Sultan tetap dalam pendiriannya maka ulama itu meraup tanah dan melemparkannya hingga jatuh di Tanah Jawa. Tanah dari Mekah itu jatuh di sebuah bukit di Giriloyo yang tempatnya berada di sisi timur laut dari kompleks Pajimatan Imogiri yang sekarang. Berdasarkan jatuhnya tanah dari Mekah itu, maka Sultan Agung berusaha mulai membangun kawasan Pegunungan Giriloyo untuk menjadi area pemakaman.

Raja-raja Mataram yang dimakamkan di tempat itu antara lain : Sultan Agung Hanyakrakusuma, Sri Ratu Batang, Amangkurat Amral, Amangkurat Mas, Paku Buwana I, Amangkurat Jawi, Paku Buwana II s/d Paku Buwana XI. Sedangkan dari Kasultanan Yogyakarta antara lain : Hamengku Buwana I s/d Hamengku Buwana IX, kecuali HB II yang dimakamkan di Astana Kotagede.

__**__

Sesampainya di gerbang masuk Kompleks Makam Pajimatan Imogiri kami langsung menuju satu rumah yang dijadikan tempat parkir yang ternaungi. Sesudahnya kami langsung saja dihadapkan pada ratusan anak tangga yang entah jumlahnya berapa. Tak begitu menanjak sih tapi entah kenapa nafas cukup tersengal. Sampai di atas ternyata kami hanya baru sampai di permulaan titian anak tangga. Kami baru sampai di pelataran dengan satu pendopo tanpa atap yang ada di depan satu masjid kuno yang konon sebagai tempat menyolatkan jenazah raja-raja yang akan dimakamkan di atas. Masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Kagungan Dalem Pajimatan Imogiri.
2 komentar

JEJAK-JEJAK SEJARAH DI KOTAGEDE
12/24/2013



Beberapa orang tak jarang yang mendapatkan kesan mendalam di pandangan yang pertama, tak peduli entah dengan seseorang maupun pada suatu hal. Kali ini saya ingin berbagi mengenai kesan yang saya dapatkan saat pertama kali memandang eksotisme bangunan di Kotagede Jogjakarta.

Berawal dari ketidaksengajaan saya beberapa tahun silam yang berniat berangkat ke Kota Pelajar untuk mengikuti ujian masuk salah satu universitas terpopuler di kota tersebut. Saat itu saya yang masih buta akan Jogja memberanikan diri memacu sepeda motor ke kota itu tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang isi kota dan letak demi letaknya, bahkan posisi universitas yang ingin saya ikuti ujian masuknya pun tidak saya ketahui secara pasti. Hasilnya pun saat mencari kosan teman yang akan digunakan untuk bermalam sebelum ujian keesokan harinya yang katanya berada di Condong Catur tak saya temukan dengan mudah seperti yang saya perkirakan. Maklum lah, masih anak “rumahan” yang baru “keluar rumah”. Rencana awal memang seperti itu, tapi entah kenapa ketika sore menjelang waktu maghrib di hari itu, saya malah sampai di Kotagede. Tersasarlah saya di daerah pengrajin perak yang cukup tersohor tersebut. Dalam hati saya bertanya, “weh tempat apa ini???” rasanya saya berada di satu masa yang lain dimana disitu banyak bangunan-bangunan tua namun rupawan dan penuh nilai seni. Yaa, yang kala itu menarik pandangan saya adalah satu benteng yang terletak di pinggir jalan raya. Sungguh menarik, keindahan arsitektur dan nilai sejarahnya tentu sangat tak ternilai. Meski masih awam tentang hal yang begituan, namun entah kenapa dalam hati saya berniat untuk kembali ke daerah itu lagi suatu hari untuk menyusuri tiap lorongnya yang penuh bangunan tua nan eksotik itu. Untuk sementara kembali konsentrasikan untuk mencari kosan temen dulu dan ikut ujian masuk universitas.

Terwujudlah keinginan tersebut setelah kurang lebih 4 tahun berlalu sejak hari itu. Gagasannya berasal dari Angga yang juga memendam keinginan untuk menikmati eksotisme setiap sudut Kotagede, terlebih didukung dengan Uul yang saat itu tengah berada di Jogja. Sepertinya memang kami memiliki minat yang sama, mulai dari alam, wisata, sampai sejarah. Jadilah setelah beberapa hari berunding lewat dunia maya kami berdua pagi-pagi berangkat menuju Jogja. Kami menghampiri Uul dulu karena dialah yang menjadi penunjuk jalan, secara dia tuan rumahnya dan yang paling menguasai hafalan jalanan kota gudeg, Jogjakarta.

Setelah kami bertiga bertemu di satu sudut jalan kota, kami mengawali pagi itu dengan sarapan di warung soto yang lain dari pada yang lain. Warungnya tepat berada di depan kuburan yang  tak jauh dari tugu Jogja. Terlepas dari letaknya yang lumayan tak lazim itu, ternyata kursi yang dijejerkan di meja panjang sudah dipenuhi manusia-manusia yang memiliki satu misi yaitu mengisi perut yang lapar. Sempat terceletuk perkataan dalam obrolan kami di tengah santap pagi kala itu. “Gimana jadinya ya kalo tiba-tiba ada yang meninggal dan dikubur  bersamaan dengan sekumpulan orang-orang yang sedang meyantap soto???” Pasti semua terdiam dengan tatapan kosong memandang mangkuk penuh kuah itu dengan backsound suara krik krik bunyi jangkrik. Secara warung sotonya benar-benar berada di depan pintu gerbang makam persis coy. Hahaha lupakan !!!

Okelah… Beranjak dari warung soto unik itu, kami bertiga langsung menuju destinasi utama kami. Uul yang menguasai jalanan dan Angga yang sudah membuat oret-oretan urutan spot yang bakal dikunjungi, melaju di depan sedang saya tinggal mengikuti gerak-gerik mereka saja di belakangnya.

Tak semudah yang diperkirakan ternyata. Setelah menemukan daerah Kotagede, kami sempat berhenti beberapa kali untuk menanyakan kepada penduduk sekitar tentang lokasi tepatnya pusat Kotagede yang kami maksud. Akhirnya sampailah kami di kawasan ramai-ramai yang ternyata adalah pasar yang juga merupakan jalan masuk sebelum sampai di kompleks makam Raja-raja Mataram.



Kami masuk area parkir yang cukup tertata. Dari situ kami mulai melihat satu gapura unik yang ada di kejauhan yang tak lain adalah jalan masuk menuju Masjid Tua Kotagede dan kompleks makam. Tak menunggu lama, setelah motor terparkir kami pun masuk melalui gapura mirip candi itu. Begitu masuk kami langsung disambut satu bangunan yang ternyata adalah sebuah masjid tua dengan tugu menyerupai candi di depannya.

Gapura masuk ke kompleks Masjid Kotagede dan Makam Raja-raja

Karena belum waktu sholat, maka kami pun tidak masuk lebih dalam ke masjid tersebut. Lagian sedang ada satu acara yang diadakan satu kelompok mahasiswa dari satu universitas di Jogja, tepatnya jurusan sejarah kalau tidak salah nguping. Kami pun lanjut ke spot selanjutnya dengan memasuki area lain yang dibatasi dengan tembok batu-bata dan gapura sebagai jalan masuknya, disitulah kompleks makam Raja-raja Mataram. Tapi sayang seribu sayang, sepertinya kami salah memilih hari. Kami memang tak sampai kepikiran mengenai hari dan waktu dibukanya kompleks makam untuk pengunjung yang ingin berziarah. Dan hari itu, Hari Sabtu persisnya, ternyata bukan hari dibukanya kompleks makam untuk kegiatan ziarah. Tapi tak apalah, cukup tahu saja kalau kami datang diwaktu yang kurang tepat, bukan salah waktu sih.

Sejarah yang pernah terukir di Kotagede

Pulau Jawa berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pajang yang berpusat di Jawa Tengah dengan Sultan Hadiwijaya yang berkuasa saat itu, menghadiahkan Hutan Mentaok yang luas kepada Ki Gede Pemanahan atas keberhasilannya menaklukkan musuh kerajaan. Beliau beserta keluarga dan pengikutnya lalu pindah ke hutan tersebut yang sejatinya merupakan bekas Kerajaan Mataram Hindu.

Desa kecil tersebut seiring berjalannya waktu mulai berkembang dan makin ramai. Setelah Ki Gede Pemanahan wafat maka putranya lah yang bernama Senapati Ing Ngalaga yang menggantikannya. Di bawah kepemimpinannya, desa itu tumbuh semakin makmur dan dipadati penduduk, hingga disebut Kotagede. Selain itu Senapati juga membangun benteng-benteng dan parit yang mengelilingi wilayah tersebut.

Di lain sisi, Kesultanan Pajang sedang terjadi perebutan tahta setelah Sultan Hadiwijaya wafat. Putranya yang bernama Pangeran Benawa disingkirkan oleh Arya Pangiri. Pageran Benawa lalu meminta bantuan Senapati karena pemerintahan Arya Pangiri dinilai tak adil. Arya Pangiri berhasil ditakhlukan dan sang Pangeran menawarkan tahta kepada Senapati, namun sayang dotolaknya dengan halus.

Setahun berlalu, wafatlah Pangeran Benawa. Sebelum meninggal, beliau sempat berpesan agar Kerajaan Pajang dipimpin oleh Senapati. Sejak itulah Senapati Ing Ngalaga menjadi raja pertama Mataram Islam dengan gelar Panembahan. Beliau tidak menggunakan gelar Sultan karena untuk menghormati Sultan Hadiwijaya dan Pangeran Benawa. Pusat pemerintahannya tak lain berada di Kotagede yang sekarang menjadi daerah pusat pengrajin perak yang cukup termasyhur.

Panemabahan Senapati kemudian mengadakan ekspansi wilayah kerajaannya hingga Pati, Madiun, Kediri, dan Pasuruan. Beliau wafat pada Hari Jumat Kliwon Asyura tahun 1601 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Raja-raja Mataram Kotagede berdekatan dengan makam sang ayah.

Kerajaan Mataram Islam kemudian berhasil menguasai hampir seluruh Pulau Jawa kecuali Banten dan Batavia. Kerajaan tersebut mencapai puncak kejayaan saat berada di bawah kepemimpinan raja ketiganya, Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati).

Tahun 1613, Sultan Agung memindahkan pusat kejayaan ke Karta yang berlokasi di dekat daerah Plered, Bantul. Mulai saat itu lah era kejayaan Kotagede sebagai pusat kerajaan Mataram islam berakhir.

Meski sudah tidak menjadi pusat kerajaan namun daerah tersebut tidak menyurut keramaiannya hingga saat ini. Selain itu, Kotagede menyimpan beberapa peninggalan sejarah berupa bangunan-bangunan unik yang berarsitektur kuno namun eksotis yang masih dipertahankan keasliannya, berupa rumah-rumah tradisional, masjid tua Kotagede yang merupakan masjid tertua di Jogja, beberapa sendhang atau mata air, benteng-benteng kokoh yang masih berdiri, Pasar Kotagede dan masih banyak lagi tentunya.


Kita bahas satu persatu yaa…

8 komentar

Candi Sukuh - Perpaduan Eksotisme dan Erotisme
11/23/2013



Bertemunya kembali saya dengan Bandon setelah terpisah sedari pos 4 merupakan akhir dari kebingunan kami berdua yang mencari satu sama lain. Perjalanan turun Gunung Lawu kala itu kami akhiri dengan sholat Dhuhur di masjid depan basecamp. Kemudian sesuai rencana awal kami selanjutnya langsung menuju Candi Sukuh di Kecamatan Ngargoyoso, Kab. Karanganyar. Kali ini saya yang meminta Bandon untuk menemani saya ke candi yang katanya cukup erotis itu. Sebenarnya bukan karena itu juga yang menjadi pendorong utama saya kepengen kesana tapi karena memang saya juga pengagum benda cagar budaya yang punya nilai sejarah dan keunikan. Pengennya sih bisa sekalian ke Candi Cetho dan Candi Kethek sekalian biar komplit, tapi karena waktu sudah mulai sore ya diputuskan hanya mengunjungi salah satunya saja dan dipilihlah Candi Sukuh.

Aksesnya cukup mudah dan di beberapa sudut jalan sudah terdapat petunjuk yang mengarahkan kita. Dari basecamp Gunung Lawu kami ke arah Karanganyar dan di satu gang yang juga mengarah ke objek wisata Air Terjun Jumog di kanan jalan kami berbelok disitu. Sebenarnya bisa juga masuk melalui gapura yang bertuliskan Wisata Cetho Sukuh namun kami memilih melalui jalan tersebut saat pulang saja mengingat kami berjalan dari arah timur jadi lebih dekat kalau masuknya lewat jalan sisi timur.

Denger-denger memang jalan menuju candi-candi unik di Karanganyar tersebut membutuhkan stamina motor yang mumpuni karena tanjakannya yang sangat ekstrim, termasuk menuju Candi Sukuh tersebut. Benar saja sesaat sebelum sampai di kompleks candi, tanjakan yang kemiringannya lumayan curam segera menyapa.

Candi Sukuh tepatnya berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar yang berada di ketinggian hampir 1.000-an mdpl. Letaknya yang berada di ketinggian membuat pemandangan yang terhampar dan bisa dinikmati dari komplek Candi Sukuh sungguh luar biasa.
Mengenai keunikan nggak perlu ditanya lagi deh. Dari letaknya saja yang berada di lereng barat Gunung Lawu sudah menunjukkan salah satu keunikannya. Belum dari segi sejarahnya yang konon candi tersebut merupakan deretan terakhir candi peninggalan Majapahit karena setelahnya tidak ada lagi candi yang dibangun. Bisa dikatakan pula Candi Sukuh ini termasuk candi yang termuda bahkan katanya pembangunannya belum rampung sebab sang Prabu Brawijaya V yang menjadi pencetus didirikannya candi tersebut telah keburu menuju puncak Gunung Lawu karena dalam masa pengejaran Raden Patah yang merupakan putranya sendiri yang mengajaknya untuk memeluk Agama Islam. Dari sejarahnya bisa disimpulkan pula jika Candi Sukuh bercorak Hindu. Hal itu diperkuat dengan adanya simbol lingga dan yoni khas corak agama tersebut. Nah ada keunikan lagi, jika di candi Hindu yang lain lingga dan yoni bentuknya seperti yang telah kita ketahui berupa alu dan lumpang, namun di Candi Sukuh ini simbol yang melambangkan kesuburan tersebut digambarkan menyerupai bentuk aslinya yaitu bentuk penis dan vagina. Sesaat setelah sampai di area candi, kami mendapati keramaian di satu bangunan di samping loket. Dari pakaian yang dikenakan bisa ketahuan kalau yang sedang mengadakan perkumpulan tersebut adalah penganut agama Hindu. Entah sedang ada acara apa tapi sepertinya merupakan jemaat dari luar kota karena ada beberapa bus yang terparkir. Mungkin karena even satu Suro yang juga disakralkan penganut agama Hindu jadi saat itu ada keramaian tersebut. Tapi di area dalam candinya sendiri terlihat lengang.


umat agama Hindu sedang berkumpul di depan area candi

Candi Sukuh ini dibangun berteras atau bertrap-trap menghadap ke barat yang makin ke belakang makin meninggi mirip bangunan prasejarah punden berundak khas arsitektur megalith. Gapura pertama mirip pylon di Mesir dan bangunan candi induk mirip dengan bentuk piramida terpancung khas bangunan kuno Suku Maya di Yucatan, Meksiko. Mengenai simbol yang menunjukkan erotisme saya juga agak bingung kenapa sangat ditonjolkan ya. Sangat bertentangan sekali dengan nilai-nilai ketimuran kita dan jauh dari sifat-sifat kedewaan yang dijunjung seperti yang tertuang di candi-candi yang lebih tua. Benar kan, memang tak ada bangunan candi sebelumnya yang memiliki arca atau pun ornamen yang memiliki nilai-nilai yang mengandung unsur erotisme selain situs Khajuharo di India yang juga terdapat aksen porno di dalamnya. Mungkin bebrapa hal yang mendasarinya adalah perubahan cara berpikir, ciri spiritual, dan dimensi waktu. Ada perubahan nilai budaya di dalam pembangunan candi sebagai hasil budaya yang berhubungan dengan pola pikirnya.

Begitu masuk di pintu pagar yang tak terlalu lebar, kita akan berada di teras yang pertama. Teras ini diawali dengan bangunan gapura berupa paduraksa yang mirip dengan pylon, sejenis gapura masuk ke piramida di Mesir. Di bagian atas pintu gapura sisi depan dan belakang terdapat ornamen berbentuk kala dengan janggut panjang yang nggak bakal ditemui di candi-candi Hindu kebanyakan.

bangunan candi yang paling depan

Pada sisi kanan dan kiri gapura terdapat relief yang menggambarkan seorang yang tengah berlari dengan menggigit ekor ular naga yang sedang melingkar. Sementara di atasnya terdapat relief yang menggambarkan makhluk mirip manusia yang sedang melayang dan relief seekor binatang melata yang tak lain merupakan sengakalan atau simbol angka tahun yang berbunyi gapura buto aban wong yang diperkirakan sebagai angka Tahun Saka 1359 saka atau 1437 Masehi. Yang unik di teras pertama adalah relief yang terukir di lantai pada pintu gapura. 


view dari atas gapura terdepan

terlihat nyata

Wow, terlihat terpampang nyata seperti aslinya. Ada penis dan vagina menyatu mennn. Pintu di gapura pertama tersebut selalu tertutup pintu kayu yang tergembok rapat. Konon katanya bisa untuk mengetes keperawanan seorang wanita, jika melompati relief tersebut maka akan ketahuan mana yang perawan mana yang tidak. Apabila masih perawan jika melompati relief tersebut maka selaput daranya akan robek dan berdarah, namun jika sudah tidak perawan maka kain yang dipakainya yang akan robek. Karena itulah mungkin area tersebut ditutup rapat agar tidak menjadi ajang pengetesan keperawanan. Hehe… Untuk menuju ke teras selanjutnya kita melewati jalan setapak di samping gapura.

Teras Kedua

Tidak ada candi ataupun arca apapun di pelataran kedua tersebut. Hanya ada gapura penghubung teras ketiga yang sudah tidak utuh lagi. Diduga gapura tersebut berbentuk bentar seperti pintu gerbang masuk mayoritas candi-candi di Jawa Timur. Di depan gapura terdapat sebuah arca Dwarapala. Arca ini berbeda dengan dwarapala pada arca candi-candi pada umumnya karena nyaris tanpa aksesori, tubuhnya polos dan gada yang dibawanya tanpa ukiran. Pada gapura ada sebuah sengkalan yang berbunyi gajah wiku anahut buntut yang diperkirakan sebagai angka tahun 1378 saka atau 1456 Masehi.

2 komentar

Insiden Saat Turun Gunung Lawu
11/22/2013



Kami berdua memutuskan untuk turun gunung setelah berhasil mengisi perut dengan sarapan yang teramat spesial yaitu soto ayam Mbok Yem yang sudah melegenda. Sebenarnya saya dan Bandon masih penasaran dengan spot-spot sakral yang ada di Gunung Lawu, namun karena ketidak tahuan kami sekaligus tak ada narasumber yang bisa memberi informasi yang akurat yasudah kami putuskan untuk menuntaskan misi tersebut di kemudian hari sekaligus mencoba jalur pendakian Lawu via candi Cetho yang katanya lumayan ajib pemandangannya.

Oiya cerita pendakian malam hari sebelumnya ada di sini nih (klik

Setelah perut terisi kami keluar dari pondokan pendaki Warung Mbok Yem, kami mulai turun gunung. Sempat berhenti sejenak di hamparan sabana yang tengah mengering di bawah Hargo Dumilah. Terlihat sangat menakjubkan, ada yang bilang saat saya meng-up load fotonya di instagram dikatakan sangat mirip dengan sabananya Rinjani.

Sabana mengering eksotis

Bandon di tengah rerimbunan rumput kering sabana

Lanjut jalan lagi kami sampai di keramaian Sendhang Drajad yang belum berkurang sedari pagi tadi saat kami melintasinya. Masih ada saja yang menunggu dengan sabar tetes demi tetes air yang keluar dari sendhang yang kala itu masih enggan mengeluarkan airnya, efek kemarau kemarin mungkin.


Berjalan langkah demi langkah lagi, kami sampai di Pos 5 yang mulai ditinggalkan oleh para pendaki. Tenda-tenda pun sudah mulai sepi karena memang panas matahari sudah sangat membara. Bandon yang kepingin foto-foto di puncak bukit kecil di dekat Pos 5 pun saya tunggui dulu, lama kelamaan saya kepengen juga foto disitu. Ternyata keren juga view-nya.

Pos 5

Bukit kecil dekat Pos 5

Bandon di puncak bukit

Mulai banyak pendaki yang mulai turun. Tak jarang kejadian ngantre terulang lagi, harus sabar dan jangan terburu-buru karena jika saling senggol kalau kebablasan bisa fatal juga akibatnya, di satu sisinya jurang dalem menn.

Singkat cerita Pos 4 sudah terlewati dengan sempurna. Nah, di tengah perjalanan kami menuju Pos 3, mulai lah terjadi satu kejadian yang membuat saya kebingungan setengah mati, hal aneh dengan tanda tanya besar. Sebenarnya sedari awal hingga sampai di warung Mbok Yem kami mendaki sering berjalan berdampingan dan tak jarang juga jarak antara kami terpisah sedikit agak jauh, namun tak sampai seperti kejadian yang kami alami di perjalanan turun setelah Pos 4 terlewati tersebut.

Awalnya saya berniat rehat sejenak di bawah pohon yang lumayan rimbun dan menyuruh Bandon jalan duluan. Tak tahu berapa lama saya rebahan di bawah pohon tersebut seorang diri tapi sekiranya tak sampai tertidur lah yaa. Setelah itu saya susul bandon yang sudah berjalan duluan di depan. Saya pun agak mempercepat langkah dengan diselingi berlari kecil untuk mengejar ketertinggalan. Sedari naik sudah berjalan bareng dan setidaknya speed jalan Bandon sudah saya hafalkan. Dengan saya agak berlari tersebut saya harapkan bisa saya susul. Ternyata apa yang saya harapkan tak terwujud begitu saja. Dalam hati saya berkata, “kok tumben cepet banget tu anak jalannya…” seperti yang saya bilang tadi kalau speed Bandon sudah saya pahami dan dengan kecepatan langkah saya yang sudah saya tingkatkan beberapa kali lipat saya perkirakan bisa tersusul, tapi ternyata kok Bandon nggak keliatan juga batang hidungnya. Pos 3 saya lewati saja karena disitu tak saya temukan Bandon, pikir saya “Wah tega banget tu anak ninggalin saya begitu saja, kebelet kali ya pengen cepet-cepet sampe basecamp…”

10 komentar